Perpuluhan

Mengapa Kita Menolak Perpuluhan


A.    PENDAHULUAN

Apakah saat ini persepuluhan wajib dilakukan pemercaya Tuhan? Setidaknya ada 2 pandangan yang menolak dan menerima. Pandangan pertama, persepuluhan wajib dilakukan dengan berbagai macam alasan antara lain: Yang pertama,  persepuluhan wajib dilakukan karena didasari aturan Hukum Taurat. Yang kedua, persepuluhan wajib dilakukan karena diperintahkan berdasarkan aturan sebelum Hukum Taurat ada. Yang ketiga, persepuluhan wajib diberikan karena diajarkan oleh Perjanjian Baru. Pandangan kedua, persepuluhan tidak wajib dilakukan saat ini. Dari kedua pandangan tersebut, manakah yang sesuai dengan fakta Kitab Suci? Kita perlu kembali kepada Firman Allah sebagai fondasi kokoh dan jelas dalam menghancurkan segala macam bentuk siasat musuh. Sebab, tidak ada satu pun perkataan manusia yang mampu menggantikan Firman Allah. Dalam perkara ini, pendapat manusia tidak memiliki bobot apa pun. Karena, persepuluhan bukanlah perkara spekulasi manusia, tetapi menyangkut penyataan Kitab Suci.

 

1.     Berdasarkan Firman

Jika Kitab Suci berkata, bahwa saat ini orang percaya wajib memberi 10% dari penghasilannya, maka setiap orang percaya wajib menaatinya. Mereka tidak dapat mengatakan, bahwa mereka tidak dapat memberi persepuluhan. Mengapa demikian? Sebab Firman Allah, berkata orang percaya wajib memberi persepuluhan. Jika itu adalah perkataan Allah, maka wajib dilakukan. Sebaliknya, jika itu bukan perkataan Firman Allah, tetapi hanya isapan jempol belaka, maka orang percaya dapat menolaknya. Jika saat ini persepuluhan tidak diwajibkan oleh Firman Allah, orang percaya berhak untuk tidak mengikutinya. Orang percaya berhak untuk menolak segala macam ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Allah; orang percaya patut untuk menolak tegas ajaran manusia; segala ajaran yang tidak bersumber pada Firman Allah dapat ditolak. Ingat saja, jika saat ini Firman Allah mewajibkan orang percaya memberikan persepuluhan, maka setiap orang percaya wajib tunduk dan taat memberikan persepuluhan sesuai dengan aturan yang berlaku tanpa menyingkirkan sedikit pun aturan yang telah ditetapkan oleh Firman Allah. Mengertikah kita akan hal ini?

Persepuluhan bukanlah perkara menguntungkan salah satu pihak, melainkan mutlak bagi Allah. Allah mengatakan ’apa’, itulah yang harus dikerjakan, tanpa menggunakan dalih apa pun dalam memuaskan hawa nafsu daging. Jika Allah memerintahkan A, maka itulah yang harus dikerjakan, jika Allah mengatakan B, maka itu juga yang wajib dikatakan. Bukan sebaliknya, ketika Allah memerintahkan A justru mengerjakan B, ketika Allah berkata B, justru mengatakan A. Seharusnya, apa yang Allah perintahkan itulah yang dikerjakan, bukan apa yang Allah larang dikerjakan. Setiap orang percaya perlu sadar, bahwa bukan karena orang di sekitarnya memberi persepuluhan, maka memberi persepuluhan. Demikian pula bagi golongan pekerja, bukan karena banyak pekerja menerima persepuluhan, maka mewajibkan adanya persepuluhan untuk mendapatkan uang. Setiap orang percaya perlu kembali kepada perkataan Firman Allah.

Jika Firman Allah berkata A, maka setiap orang percaya perlu mengetahui dan melakukan dengan tepat apakah A itu sesungguhnya, tanpa harus mengikuti perkataan manusia yang menyimpang. Ketika orang percaya mencoba berdiri di atas pengalaman seseorang, maka ia akan mudah terjebak. Persepuluhan bukanlah perkara pengalaman seseorang, melainkan apa yang dinyatakan oleh Firman Allah. Ketika seseorang berkata kepada kita, bahwa dirinya telah pergi naik ke surga berkali-kali dan menceritakan ini dan itu mengenai surga, itu bukan berarti kita percaya, bahwa surga itu ada sesuai dengan kesaksiannya, melainkan kita percaya surga itu ada hanya berdasarkan perkataan Firman Allah. Mempercayai surga itu ada berdasarkan perkataan manusia, sungguh keterlaluan, ini menyesatkan. Kita seharusnya hanya percaya Firman Allah, ketika Firman Allah berkata surga itu ada, maka kita percaya, bahwa surga itu ada. Jika Firman Allah berkata surga itu tidak ada, maka kita percaya, bahwa surga itu tidak ada. Ada atau tidak adanya surga sepenuhnya mutlak hanya berdasarkan Firman Allah. Apa yang tidak sesuai dengan Firman Allah patut ditolak. Jika Firman Allah berkata, saat ini persepuluhan wajib diberikan, maka wajib melakukannya.

Bagi kita, apakah Allah memerintahkan kita memberi perpuluhan? Jika Allah memerintahkan kita melakukannya, maka kita harus melakukannya. Tidak menjadi soal, apakah kita diberkati atau tidak; tidak menjadi soal, apakah kita miskin atau kaya dan tidak menjadi soal, apakah kita menderita atau tidak, sebab bagi kita, kita hanya mau mengikuti perkataan Allah. Sebaliknya, jika Allah tidak memerintahkannya, maka kita pun tidak melakukannya. Kita hanya mengikuti kehendak Allah bukan kehendak manusia. Mengertikah Anda? Kita perlu tahu satu hal, bahwa masalah kita adalah apakah kita melakukan segala sesuatunya berdasarkan kehendak Allah, jika tidak segera hentikan.

Ketika kita mengikuti kehendak Allah, maka hubungan kita dengan Allah tidak akan mengalami permasalahan, hubungan mereka tidak akan memiliki sekatan dengan Allah. Hubungan dengan pemercaya lainnya pun tidak merendahkan, melainkan sebuah hubungan yang mutlak bagi Tuhan. Tidak hanya itu saja, musuh Allah pun tidak akan mampu menjebak orang percaya, dalam hal ini.

 

2.     Siasat Musuh

Persepuluhan adalah perkara penting, oleh karena itu setiap orang percaya perlu mendapat kejelasan tentang persepuluhan. Setiap bagian terkecil yang berhubungan dengan persepuluhan perlu disingkapkan tanpa bermaksud untuk menyenangkan hati manusia, melainkan hanya hati Allah semata. Setiap bagian demi bagian perlu kejelasan untuk mempermalukan siasat musuh. Siasat musuh perlu dibongkar, jika orang percaya tidak membongkarnya, maka mudah terjebak oleh musuh Allah. Namun sangat disayangkan, tidak sedikit orang percaya terjebak siasat musuh Allah yang mencoba menyembunyikan kebenaran Firman Allah. Mengapa demikian? Tidak sedikit orang percaya tidak menguji perkataan pekerjanya, padahal Kitab Suci mengatakan, ”Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tes. 5:21). Tidak heran, ketika Firman Allah menyatakan, bahwa persembahan mereka keliru, maka dengan mudahnya mengatakan “sesat” ataupun berkata, “setiap pekerja atau full timer memiliki perbedaan pengertian” ataupun “menurut pekerja atau full timer saya, persepuluhan itu ada”. Apakah Anda seperti itu?

Tidak hanya ada orang percaya yang terjebak oleh siasat musuh Allah karena tidak menguji ajaran pekerjanya. Ada juga orang percaya yang terjebak oleh musuh Allah karena salah dalam menguji. Ada beberapa sumber kesalahan yang dilakukan oleh orang percaya dalam melakukan pengujian.

Pertama, kepandaian. Ada orang percaya yang beranggapan bahwa kepandaian adalah standar utama perkara rohani. Tidak heran, setiap perkataan pekerja/full timernya pasti mutlak benar, bahkan lebih unggul dari Kitab Suci. Anggapan ini jelas keliru. Menggunakan kepandaian sebagai sumber kebenaran adalah keliru. Di dalam Kitab Suci dikatakan, ”Jawab Yesus: ”Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu” (Yoh. 3:10). Siapakah yang dimaksud Tuhan? Nikodemus, tetapi mengapa Nikodemus tidak mengerti perkataan Tuhan? Apakah ia bodoh, bukankah dia adalah seorang Farisi, seorang pemimpin agama Yahudi? Dengan demikian, kepintaran tidak menjamin dirinya mengenal kebenaran Firman Allah. Bukankah kita mengetahui Apollos adalah orang yang menonjol dalam Kitab Suci. Tetapi, tahukah Anda, Apollos tidak tahu kebenaran? Apollos perlu diajar oleh Priskila dan Akwila (Kis. 18:24-28); 19:1-7). Jika kepandaian menjadi landasan Anda, maka Anda mudah tersesat.

Kedua, kesukaan. Ada orang percaya yang mencoba membenarkan persepuluhan atas dasar saya suka itu. Dalam mengikuti Tuhan kita harus memperhatikan apa yang Allah suka, bukan tentang apa yang kita suka. Dalam memberi persembahan kita harus menyenangkan Allah bukan menyenangkan diri sendiri. Allah telah memberitahukan kepada kita cara menyenangkan hati-Nya adalah melakukan apa yang Dia firmankan.  

Ketiga, mujizat. Ada orang percaya menguji kebenaran atas dasar mujizat. Jika mereka menemukan bahwa pemimpin rohaninya bisa melakukan mujizat, maka pengajarannya mutlak benar. Menggunakan mujizat sebagai sumber utama dalam menentukan kebenaran Firman Allah sangat menyesatkan. Jangan berprasangka, mujizat adalah sumber utama dalam menentukan kebenaran mengenai persepuluhan. Jika Anda membaca Kitab Suci, Anda akan menemukan, bahwa ada orang yang sanggup mengadakan tanda-tanda mujizat, tetapi pembuat kejahatan (Mat. 7:22-23). Sadarkah Anda.

Keempat, jumlah anggota. Ada orang percaya yang menguji perkara kebenaran berdasarkan jumlah pengikut. Mereka berkeyakinan bahwa semakin banyak pendukung, maka semakin benar. Jika demikian, Anda telah menyalahpahami Kitab Suci. Membaca Kitab Suci, kita temukan dari 12 pengintai hanya 2 orang yang memihak Allah dan 10 orang melawan Allah (Bil. 13). Itu berarti jumlah orang tidak menjamin kebenaran. Apakah Anda nampak hal ini?

Menguji kebenaran Firman Allah berdasarkan kepandaian, kesukaan, mujizat dan jumlah anggota adalah keliru. Karena kesalahan Anda dalam menguji segala sesuatu, Anda terjebak oleh janji palsu full timer atau pekerja. Anda termakan oleh berita-berita yang hanya memuaskan keinginan daging semata. Berita Firman yang didengar bukan bersumber pada Firman Allah, melainkan isapan jempol manusia belaka. Janji-janji manis diberikan full timer atau segolongan imam seolah-olah Allah akan memberkati persepuluhan Anda setiap bulan. Tidak heran, Anda berpikir, Allah akan menjadikan Anda kaya raya, karena Anda telah memberikan persepuluhan. Ini berarti, kekayaan menjadi tujuan utamanya dan menjadikan Allah sebagai alat pemuas materi manusia.

 

 

 

3.     Ketidaktepatan ”Sekelompok Imam”

Perkara persepuluhan ini untuk “segolongan imam” memang sangat menyukakan hati. Mengapa? Perut. Persepuluhan merupakan mata pencaharian tetap menurut waktu yang telah ditetapkan. Tidak heran, berbagai cara dilakukan guna mempertahankan pemasukan. Ada yang mengacuhkan atau mengabaikan jemaatnya, ada yang menghentikan pelayanan jemaatnya, ada yang mengancam jemaatnya secara halus untuk keluar dari gerejanya dan ada juga yang mengukur kedewasaan rohani jemaatnya berdasarkan persepuluhan. Bahkan, ada yang mendatangi setiap rumah jemaatnya untuk segera melunasi tunggakan persepuluhan dengan membawa amplop yang wajib diisi jemaatnya. Jika jemaatnya tidak memberi, maka jemaatnya di cap sebagai pencuri yang mencuri uang Tuhan dan dipastikan tidak akan diberkati Tuhan.

Kaum imam, di mana pun dan kapan pun senantiasa memberitakan persepuluhan, meskipun temanya bukan mengenai persepuluhan. Bahkan, ada kaum imam yang tidak hanya menimbun persepuluhan, tetapi juga menguras apa yang ada pada jemaatnya sampai tidak ada yang tersisa, jika ada hanya yang menempel di badan jemaatnya. Anggota jemaatnya hanya diperlakukan sebagai mesin penambah kekayaan pribadinya. Tetapi, tidak mengapa sebab bagaimana pun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas.

Saudara-saudariku, sebagai pengikut Tuhan, kita harus memiliki kesetiaan pada Firman Allah bukan kepada perkataan manusia. Kita harus menerima kebenaran Firman Allah bukan menyukai tutur kata “full timer” atau “pekerja”. Apakah Anda lebih menerima perkataan manusia dibandingkan dengan perkataan Allah. Semoga Tuhan membela kasihani Anda.

 

B.    PEMBAGIAN ZAMAN

Sekarang yang perlu ketahui ialah apakah saat ini orang percaya wajib memberikan persepuluhan? Untuk kita mengerti tentang hal ini, mari kita melihat perkara memberi menurut tiga zaman yaitu zaman sebelum hukum Taurat, Zaman hukum Taurat dan Zaman anugerah atau Gereja.

 

1.     Zaman Sebelum Hukum Taurat

Pendukung persepuluhan menekankan, bahwa persepuluhan telah ditetapkan sebelum zaman hukum Taurat. Mereka mengatakan, ”persepuluhan tidak berasal dari hukum Taurat, melainkan berasal dari perjanjian anugerah yang diberikan kepada Abraham yang dilayani oleh Melkisedek, 430 tahun sebelum hukum Taurat ada. Maka persepuluhan tercakup kepada imamat Melkisedek dan perjanjian Abraham yang lebih tinggi daripada imamat Lewi dan perjanjian Taurat”. Oleh karena itu, pada masa sekarang (kasih karunia) orang Kristen wajib memberikan persepuluhan. Mereka menerangkan, bahwa bukti tersebut terdapat di dalam Kejadian 14:17-20, yakni pertemuan Abraham dengan Melkisedek dan Kejadian 28:10-22, yakni mimpi Yakub di Betel. Inilah bukti kuat untuk meyakinkan, bahwa orang Kristen wajib memberi persepuluhan. Di dalam Kitab Suci dikatakan, ”Setelah Abram kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan dia, maka keluarlah raja Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe, yakni Lembah Raja. Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: ”Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.” Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya” (Kej. 14:17-20). Di sini, Abraham memberikan persepuluhan kepada Melkisedek. Oleh karena itu, orang percaya perlu mengikuti teladan Abraham sebagai bapa semua orang percaya.

Kemudian, mereka menunjukkan bagian lainnya di dalam Kitab Suci yang mendukung pandangan mereka tentang kewajiban orang Kristen memberi persepuluhan di mana dikatakan, 20Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, 21sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. 22Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu” (Kej. 28:20-22). Berdasarkan Kejadian 28:20-22, orang percaya diwajibkan untuk memberikan persepuluhan kepada Allah.

Berdasarkan argumentasi Abraham dan Yakub, pendukung persepuluhan menerangkan, bahwa saat ini orang Kristen wajib memberi persepuluhan. Dalam Kisah Abraham, Melkisedek diberi persepuluhan oleh Abraham dan dalam kisah Yakub ditemukan, bahwa Yakub berjanji untuk memberikan sepuluh persen dari segala apa pun yang diperolehnya yang ia terima dari Allah (Kej. 28:22). Allah meminta dengan sangat tegas dan pasti sebesar 10% dari mereka. Dalam kitab Kejadian, Allah meminta jumlah yang harus dikembalikan oleh Abram dan Yakub kepada Allah sebesar 10% bukan sebesar 5% atau 9%. Bahkan, penganut persepuluhan menerangkan bahwa memberi sepersepuluh adalah perintah yang saat ini wajib dilakukan orang percaya, sebab persepuluhan Abraham dan Yakub dilakukan sebelum hukum Taurat berlaku.

Bagi penganut persepuluhan, kisah Abraham dan Yakub adalah acuan tepat dalam Kitab Suci, di mana orang percaya wajib memberi sepersepuluh kepada gembalanya (Kej. 14:20; Kej. 28:22). Bahkan, mereka mengutip di bagian lain dalam Perjanjian Baru yakni Matius 23:23, bahwa persepuluhan sebelum hukum Taurat itu tidak dihapus karena sewaktu orang Faris memberi persepuluhan, Tuhan Yesus tidak melarangnya. Ini menerangkan, jika Yesus menghendaki orang percaya tidak memberi sepersepuluh dari kekayaannya, tentunya Dia akan mengatakan kepada orang Farisi untuk tidak melakukannya. Dengan demikian, saat ini orang percaya wajib memberikan sepersepuluh, sebab Yesus sendiri tidak mengecam orang Fairisi tersebut dalam perkara memberi persepuluhan.

Benarkah orang percaya diwajibkan memberikan persepuluhan berdasarkan aturan sebelum hukum Taurat? Untuk kita mengetahui, apakah pemercaya Tuhan wajib memberikan persepuluhan pada saat ini, maka kita perlu mengetahui bahwa pada masa sebelum hukum Taurat ada dua macam pemberian yang dilakukan yakni pemberian puncak dan wajib. Mengetahui kedua macam pemberian ini memudahkan pemercaya-Nya untuk menolak, bahwa saat ini pemercaya Tuhan wajib memberikan persepuluhan.

 

a.     Pemberian Puncak

Kata Ibrani maeser memiliki arti “sepersepuluh bagian” yang diterjemahkan persepuluhan. Kata ini sebanding dengan kata Yunani yaitu dekate yang memiliki arti “kesepuluh”. Ini merupakan sebuah istilah matematika, bukan istilah agama. Akan tetapi, istilah itu dapat dipakai dalam ilmu teologi atau matematika.

Kata persepuluhan yang dipergunakan di dalam Kitab Kejadian mengacu kepada persembahan sukarela, bukan kepada persembahan yang diwajibkan atau yang dituntut oleh Allah. Pemberian yang dilakukan oleh Abraham dan Yakub adalah pemberian sukarela dan tidak sama dengan pemberian persepuluhan di bawah hukum Musa. Memberi sepersepuluh pada zaman sebelum hukum Taurat melambangkan memberi seluruhnya. Banyak ilah-ilah orang kafir dihormati dengan cara memberi sepersepuluh. Alasannya? Angka sepuluh menggambarkan kesempurnaan. Jika ada orang yang memberi sepersepuluh kepada Allahnya, hal itu adalah lambang bahwa dia memberi semua miliknya yaitu penyerahan yang menyeluruh.

Dalam kitab Kejadian Allah tidak pernah menuntut persepuluhan baik dalam kisah Adam dan Hawa (Pasal 2-5), kisah Kain dan Habel (Pasal 4), kisah Nuh (Pasal 8), kisah Abraham (Pasal 12-14), kisah Ishak (Pasal 21-28), kisah Yakub (Pasal 28), kisah anak-anak Yakub (Pasal 32-50). Tetapi, mari kita akan membatasi hal ini dalam kisah-kisah tertentu, mengapa? Membaca Kitab Suci dengan tepat, mendapatkan kebenaran dan mampu mengalahkan siasat musuh.

 

1)    Kisah Kain dan Habel (Pasal 4)

Sekarang, mari kita membaca Kejadian 4:1-5 di mana dikatakan, 1Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” 2Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. 3Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 4Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 5tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram”. Membaca Kitab Suci secara tepat mampu melepaskan kita dari dongeng nenek moyang serta mendapatkan terang Tuhan. Dalam kisah Kain dan Habel, kita tidak menemukan bahwa Allah meminta kepada mereka untuk memberi persepuluhan dari hasil kekayaan mereka setiap bulannya. Apakah kita menemukan, bahwa Kain dan Habel, menyetor persepuluhan setiap bulan kepada Allah? Berdasarkan kisah Kain dan Habel, kita tahu bahwa mereka memberi berdasarkan kemauan mereka. Bahkan, berdasarkan ayat 3 dan 4, kita dapat menarik kesimpulan, apakah benar bahwa Habel hanya memiliki 10 ekor domba? Tentunya kita tidak akan berpikir bahwa Habel memiliki hanya 10 ekor domba saja.

 

2)    Kisah Nuh (Pasal 8)

Setelah selesai membaca Kejadian 4:1-5, para pembaca hendaklah memperhatikan Kejadian 8:15-22 dikatakan, 15Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: 16“Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu; 17segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.” 18Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya. 19Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu. 20Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. 21Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. 22Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam”. Asal saja, kita membaca Kitab Kejadian dengan tepat maka akan nampak, bahwa persembahan Nuh merupakan ungkapan terimakasih kepada Allah dan Allah tidak menuntut Nuh memberikan persepuluhan. Mengatakan lantang, bahwa setelah Nuh keluar dari bahtera memberikan persepuluhan dari hasil kekayaannnya adalah perkataan yang tidak tepat.

 

3)    Kisah Abram/Abraham (Pasal 12-14)

Selanjutnya, di dalam Kitab Suci dikatakan, Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya” (Kej. 12:7). Tindakan Abram mendirikan mezbah merupakan tanggapan Abram terhadap panggilan Allah atas dirinya. Apa yang dilakukan oleh Abram bukanlah perkara persepuluhan. Demikian pula dengan Kejadian 13:18, dikatakan, ”Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN”. Membaca tepat Kitab Suci mendapatkan kebenaran, Abram tidak memberikan sepersepuluh kepada Allah, melainkan Abram melakukan suatu pendirian mezbah yang dilakukannya dengan sukarela.  Ini membuktikan, bahwa mendasari persepuluhan berdasarkan Kejadian 13:18 tidak tepat. Orang Kristen tidak diwajibkan memberikan sepersepuluh tiap bulan dari hasil kekayaannya dengan memakai Kejadian 13:18. Jika saudara memaksakan orang percaya memberikan persepuluhan berdasarkan Kejadian 13:18 adalah dongeng manusia yang mengalami kejatuhan.

Kemudian, kita perlu membaca Kejadian 14:14-20 secara tepat di mana dikatakan, 14Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan. 15Dan pada waktu malam berbagilah mereka, ia dan hamba-hambanya itu, untuk melawan musuh; mereka mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik. 16Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya itu, serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya. 17Setelah Abram kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan dia, maka keluarlah raja Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe, yakni Lembah Raja. 18Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. 19Lalu ia memberkati Abram, katanya: “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, 20dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.” Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya”. Membaca apa yang tertulis dalam Kitab Suci mendapati terang, kita menemukan tiga fakta penting.

Pertama, Abram tidak memberikan sepersepuluh dari segala sesuatu yang ia miliki. Pemberiannya itu bukanlah sepersepuluh dari seluruh pendapatan atau kekayaan Abram (Kej. 12:5; 13:1-2). Pemberian Abram kepada Melkisedek adalah hasil dari kemenangannya atas Kedorlaomer dan para raja lain. Kita perlu membandingkan hal ini dengan bagian yang lain yakni Ibrani 7:4. Alkitab tidaklah sesederhana itu, kita perlu menyelidiki perkara ini dengan tepat. Di dalam Ibrani 7:4 dikatakan, “Camkanlah betapa besarnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik”. Perhatikan perkataan “sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik”. Kata Yunani yang dipakai untuk “rampasan” adalah akrothinion. Kata akrothinion ini memiliki arti “puncak, paling tinggi, puncak dari suatu timbunan”. Setelah kita membaca tepat kitab Kejadian dan kitab Ibrani, maka ditemukan, bahwa apa yang Abram berikan bukanlah berdasarkan seluruh kekayaan yang dimilikinya. Apa yang diberikan oleh Abram berasal dari rampasan (akrothinion), Abram memberi sepersepuluh dari puncak timbunan itu. Abram tidak memberi sepersepuluh dari semua rampasan, tetapi memberi sepersepuluh dari semua rampasan yang paling baik. Rampasan yang paling baik inilah yang di bawa oleh Melkisedek, mengingat ia hanya seorang diri tidaklah mungkin ia membawa sepersepuluh dari harta benda lima orang raja.

Kedua, Abram tidak dituntut Allah memberi persepuluhan kepada-Nya. Pemberian Abram bukan berasal dari tuntutan Allah melainkan inisiatif Abram untuk memberikan yang terbaik kepada Allah. Setelah menang perang melawan Kedorlaomer dan para raja, Abram memperoleh banyak sekali rampasan perang. Dalam perjalanan kembali ia bertemu dengan Melkisedek. Sewaktu ia melihat Melkisedek Abram melakukan suatu tindakan ucapan terimakasih kepada Allah yang telah memberikan kemenangan kepadanya dengan cara “Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya” (Kej. 14:20). Persepuluhan Abram adalah inisiatif Abram bukan tuntutan dari Allah. Mengatakan, sama seperti Abram dituntut Allah memberi sepersepuluh dari seluruh kekayaannya kepada Allah, maka orang percaya wajib melakukannya tidaklah tepat. Persepuluhan Abraham adalah sukarela. Allah tidak pernah memerintahkan Abram seperti Allah memerintahkan persepuluhan kepada bangsa Israel. Abram memberikan persembahan kepada Allah tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Apakah ketika Abram memberikan persembahan sepersepuluh ia mengalami tekanan? Apakah ketika Abram dipanggil keluar dari negerinya, Allah meminta kepada Abram untuk tidak lupa memberi sepersepuluh dari kekayaannya? Apakah ada perjanjian antara Allah dan Abram mengenai sepersepuluh ketika ia dipanggil keluar dari negerinya? Apakah ia dituntut oleh Tuhan untuk wajib memberikan sepersepuluh dari kekayaannya kepada Tuhan? Membaca berulang kali Kitab Kejadian, tidak akan menemukan Abram dituntut Allah memberi persepuluhan. Perbuatan Abram adalah ucapan terimakasih kepada Allah.

Ketiga, Abram hanya satu kali saja memberikan persepuluhan di sepanjang 175 tahun hidupnya di muka bumi. Apakah kita menemukan Abram melakukannya setiap bulan? Di kitab manakah Abram memberi persepuluhan sebanyak dua kali? Jika kita membaca kitab Kejadian dengan tepat, maka kita tidak akan menemukan bahwa Abram memberi persepuluhan sebanyak dua kali. Jadi, menggunakan kisah Abraham untuk mendukung persepuluhan setiap bulan berdasarkan nominal angka seperti yang diajarkan oleh banyak pekerja adalah kekeliruan.

Saudara-saudariku, apakah Anda menjadikan Abram sebaga teladan yang harus diikuti dalam memberi persepuluhan? Jika Anda menggunakan Abram sebagai teladan dalam memberi persepuluhan, maka Anda hanya diharuskan untuk memberi persepuluhan sekali saja selama Anda hidup di muka bumi dan pemberian Anda itu adalah sukarela tanpa paksaan dari pihak manapun.

 

4)    Kisah Yakub (Pasal 28)

Sekarang, mari kita membaca Kejadian 28:18-22 dikatakan, 18Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. 19Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus. 20Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, 21sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. 22Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu”. Pengajar persepuluhan menerangkan, bahwa pada masa ini, orang Kristen wajib memberi sepersepuluh dari kekayaannya berdasarkan kisah Yakub. Ketika Yakub bermimpi, dia melihat tangga yang terhubung mencapai surga. Pada keesokan harinya, Yakub mengalami sebuah perubahan total dalam hidupnya, dia mengalami suatu transformasi penuh, Yakub menjadi manusia yang baru, yang terlahir kembali, Yakub yang serakah, licik, penipu, berubah menjadi Israel si pemenang. Mengapa demikian? Perhatikanlah apa yang dikatakan Yakub “Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu” (Kej. 28:22). Ini membuktikan, sama seperti Yakub memberi persepuluhan demikian pula orang Kristen wajib memberi persepuluhan. Benarkah apa yang ditafsirkannya? Membaca tepat Kejadian 28:22 akan menentang tafsiran mereka.

Sekarang, mari kita melihat perkataan “bernazarlah Yakub” ini menunjukkan, bahwa Yakub adalah pribadi yang meragukan Tuhan. Jika sepersepuluh merupakan kewajiban tentunya Yakub tidak perlu bernazar. Kita dapat melihat dengan jelas, bahwa Yakub memberi sepersepuluh dalam upaya menyogok Allah (ayat 20-22). Bukankah, Yakub bersedia memberi sepersepuluh kepada Allah, jika Allah menyediakan keinginannya. Yakub sedang mencoba membujuk Allah, perbuatan Yakub memberi sepersepuluh kepada Allah adalah jauh dari kebenaran. Bahkan, apakah kita menemukan, bahwa Allah meminta Yakub untuk setiap bulan memberi sepersepuluh kepada-Nya. Membaca sebanyak 40 kali pun tidak akan menemukan, bahwa Allah meminta Yakub memberikan sepersepuluh kepada-Nya.

Saudara-saudariku, persepuluhan pada zaman sebelum hukum Taurat bukanlah pada jumlahnya. Mereka memberi persembahan sukarela kepada Allah bukan persembahan wajib. Pemberian mereka berasal dari diri mereka. Pemberian Abram dan Yakub kepada Allah adalah sukarela, digerakkan oleh diri sendiri. Dan, mereka memberi apa yang biasa diberikan pada zamannya, yaitu sepersepuluh, yang merupakan lambang yang menerangkan, bahwa mereka telah memberikan semua yang mereka miliki kepada Allah. Apakah ketika mereka memberikan sepersepuluh merupakan kewajiban yang telah ditentukan hari, minggu, bulan dan tahun? Apakah sepersepuluh yang mereka lakukan adalah suatu rutinitas yang biasa dilakukan? Tidak ada satu bukti pun, bahwa Allah menuntut mereka dalam hari, bulan bahkan tahun tertentu untuk memberikan sepersepuluh dari kekayaannya kepada Allah. Kita tidak menemukan, bahwa Abram dan Yakub setiap bulan berkewajiban memberi persepuluhan.

Membaca Kitab Suci, Yakub tidak diajar oleh Ishak memberi persepuluhan setiap bulan kepada Allah. Apakah Yakub diajar oleh Ishak mengenai sepersepuluh sehingga “bernazarlah Yakub” dalam mempersembahkan sepersepuluh kepada Allah sebagai suatu kewajiban? Apakah Ishak diajar oleh Abraham sehingga kita menemukan teladan Ishak memberikan sepersepuluh kepada Allah sebagai suatu kewajiban. Apakah Ishak diwajibkan mempersembahkan sepersepuluh dari kekayaannya kepada Allah oleh Abraham.

Pemberian Abram dan Yakub bukan berdasarkan pada suatu jumlah tertentu, melainkan berdasarkan puncak tertinggi untuk memberi, bisa saja memberi satu perak atau bahkan lebih besar dari satu perak. Pantaskah memberi kepada Tuhan dengan nilai satu perak atau pantaskah mereka memberi dengan nilai yang lebih dari satu perak. Memberi satu atau lebih dari satu perak pun tidak akan menjadikan Allah sebagai pengemis. Kurang kayakah Allah sehingga Ia mengemis untuk meminta satu perak dari manusia, kekurangankah Allah sehingga Ia berharap lebih dari satu perak. Persentase atau jumlah, tidak menyebabkan Allah kekurangan atau bertambah kaya. Sikap hati seperti Abrahamlah yang membuat Allah menerima apa yang dipersembahkan kepada-Nya. Prinsipnya adalah mereka memberi nilai yang tertinggi pada Alah. Nilai tertinggi di sini sekali lagi bukan pada 10%, melainkan sukarela. Pemberian ini ditujukan kepada Allah.

 

b.     Pemberian Seperlima Bagian

Membaca Kitab Suci perlu menjamah maksud si penulis. Asalkan kita menjamahnya, maka mendapati kebenaran. Sebaliknya, mempertahankan konsepsi usang akan mendapatkan kekacauan. Menjamah Kitab Kejadian 41:33-34 dan Kejadian 47:24-26, kita menemukan, bahwa Allah meminta seperlima bagian dari hasil tanah di Mesir bagi kesejahteraan rakyat mesir. Di dalam Kejadian 41:33-34 dikatakan, ”Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir. 34Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir”. Kemudian, di dalam Kejadian 47:24-26 dikatakan, “Mengenai hasilnya, kamu harus berikan seperlima bagian kepada Firaun, dan yang empat bagian lagi, itulah menjadi benih untuk ladangmu dan menjadi makanan kamu dan mereka yang ada di rumahmu, dan menjadi makanan anak-anakmu.” Lalu berkatalah mereka: ”Engkau telah memelihara hidup kami; asal kiranya kami mendapat kasih tuanku, biarlah kami menjadi hamba kepada Firaun.” Yusuf membuat hal itu menjadi suatu ketetapan mengenai tanah di Mesir sampai sekarang, yakni bahwa seperlima dari hasilnya menjadi milik Firaun; hanya tanah para imam tidak menjadi milik Firaun. Ini mememperlihatkan, bahwa selama tujuh tahun, pemerintah Mesir wajib mengumpulkan pajak sebesar seperlima dari hasil tanah Mesir. Pemberian wajib ini dilakukan oleh pemerintah untuk membiayai keperluan rakyatnya.

Dengan demikian, kita mengetahui, bahwa pada masa sebelum hukum Taurat, ada dua macam persembahan yakni persembahan puncak dan persembahan wajib. Persembahan puncak adalah persembahan yang diberikan Abraham kepada Allah dengan sukarela. Persembahan itu merupakan puncak dari timbunan dan tidak menuntut jumlah. Jika demikian, apakah sekelompok imam akan menuntut ”jemaat” untuk memberikan sepersepuluh dari penghasilannya, padahal Tuhan tidak menuntut Abraham memberikan sepersepuluh dari seluruh kekayaannya. Abraham memberikan berdasarkan sikap hatinya kepada Allah. Sedangkan, persembahan wajib adalah persembahan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintahan Mesir. Persembahan ini diberikan untuk keperluan rakyat. Persembahan itu merupakan kewajiban bukan sukarela.

 

2.     Zaman Hukum Taurat

Sekarang, kita perlu mengetahui, apakah saat ini orang percaya wajib memberi persepuluhan? Tidak sedikit orang berkata, bahwa saat ini orang percaya wajib memberi persepuluhan karena telah ditetapkan pada Zaman Hukum Taurat. Mereka berargumentasi, bahwa Kitab Suci mengatakan, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (Mal. 3:10). Ini berarti, orang percaya perlu memberi persepuluhan, sebab ini adalah perintah Tuhan dan masih berlaku sampai saat ini, serta wajib dilakukan oleh orang percaya. Inilah alasan yang diajukan oleh mereka yang mengatakan, bahwa persepuluhan masih berlaku sampai saat ini. Akan tetapi, kita perlu tahu, bahwa apa yang mereka ajarkan adalah setengah kebenaran. Kita harus melihat secara keseluruhan apa yang dimaksud oleh Kitab Suci.

 

a.     Pemberian Tiga Puluh Persen

Pada masa hukum Taurat (zaman Musa sampai zaman Yesus), Allah meminta bangsa Israel untuk memberi persepuluhan. Ini adalah pemberian wajib, bukan Sukarela. Allah mewajibkan bangsa Israel untuk memberi persepuluhan sebagai bagian dari sistem perpajakan mereka. Persepuluhan bangsa Israel kepada Allah adalah pajak bukan sukarela. Pajak adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh bangsa Israel kepada Allah. Allah mengenalkan tiga macam persepuluhan bagi Israel sebagai bagian dari sistem perpajakan mereka. Kebanyakan orang hanya memahami, bahwa pemberian yang dituntut kepada bangsa Israel hanya sebesar 10 persen. Mereka yang mengatakan, bahwa bangsa Israel hanya memberi 10 persen itu keliru. Mereka memberi lebih dari sebesar 10 persen dalam ketiga macam persepuluhan ini. Lewi menuntut tidak hanya sebesar 10 persen kepada 12 suku bangsa Israel melainkan lebih dari 10 persen.

 

1)    Persepuluhan Pertama

Mengenai bani Lewi, Allah memberikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel yang terdiri dari 12 suku (Yusuf terbagi 2, Manasye dan Efraim), sebagai milik pusakanya untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan, orang Lewi tidak akan mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel sebab ”Aku telah berfirman tentang mereka: Mereka tidak akan mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel” (Bil. 18:24). Dengan demikian, kita jelas bahwa kaum Lewi memperoleh persepuluhan dari kedua belas suku (Bil. 18:21-24), sedangkan kedua belas suku itu tidak memperoleh persepuluhan.

Kaum Lewi menerima persepuluhan dari hasil produksi manusia dan hewan. Persepuluhan ini adalah milik Allah dan penekanannya adalah pada jumlahnya, jika orang Israel tidak memberikannya, maka mereka mencuri dari Allah (Mal. 3:8). Bahkan, jika ada orang yang hendak menyimpan buah-buahnya, “ia harus menambah seperlima” (Im. 27:30-33). Ia dapat memberi uang untuk menebus tanah dan benih dan buah-buahannya, tetapi tidak untuk hewan. Demikianlah persepuluhan pertama adalah 10 persen dari hasil produksi manusia dan hewan. Persepuluhan yang pertama ini berguna bagi kaum Lewi dan disebut sebagai milik Tuhan (Im. 27:30).

 

2)    Persepuluhan Kedua

Di dalam Ulangan 12, kita dapat menemukan, ketika bangsa Israel diam di negeri yang diberikan Tuhan, dikaruniakan keamanan dan diam dengan tenteram, maka ”korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN” (ay. 11) dibawa ke tempat yang dipilih Tuhan, ”bersukaria di hadapan Tuhan, kamu ini, anakmu laki-laki dan anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu” (ay. 12, 18) dan ”Hati-hatilah, supaya jangan engkau melalaikan orang Lewi, selama engkau ada di tanahmu” (ay. 19). Ini merupakan persepuluhan yang lain, yang berbeda dengan persepuluhan yang pertama. Persepuluhan yang kedua ini berguna bagi orang Israel dan keagamaan.

 

3)    Persepuluhan Ketiga

Di dalam Ulangan 14:28-29; 26:12-14, kita dapat menemukan persepuluhan yang ketiga. Persepuluhan ini ditujukan bagi orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda (Ul. 14:29). Persepuluhan ini adalah untuk tidak melupakan setiap orang yang memerlukan pertolongan.

Ini adalah persepuluhan. Ketiganya ini merupakan persembahan yang wajib untuk dituntut, yang memiliki suatu aturan yang jelas, tentang kenapa, siapa, mengapa, di mana, bagaimana persembahan persepuluhan ini dilakukan. Ketiganya dapat dikatakan sebagai pajak, bukan persembahan sukarela. Ketika ini tidak dilakukan, maka mereka beroleh hukuman dari Tuhan. Sudahkah Anda melakukan ini? Bukankah Anda perlu kembali kepada kebenaran Alkitab? Allah meminta bukan seperti apa yang kaum clergy lakukan hari ini. Allah meminta persepuluhan seperti Dia meminta kepada bangsa Israel. Allah mewajibkan bangsa Israel untuk memberikan persepuluhan dan persepuluhan bangsa Israel mencapai lebih dari 23 persen (20% per tahun dan 10% setiap tiga tahun sama dengan 23% per tahun).

 

 

 

b.     Persembahan Puncak

Persembahan yang diberikan ini bukanlah pada jumlah. Ini berbeda dengan ketiga macam persepuluhan di atas. Persembahan sukarela ini dapat kita temukan di dalam Kitab Suci antara lain, “Segala yang terbaik dari minyak dan segala yang terbaik dari anggur dan dari gandum, yakni yang sebagai hasil pertamanya dipersembahkan mereka kepada TUHAN, Aku berikan kepadamu” (Bil. 18:12). Di sini kita dapat menemukan, bahwa orang Israel memberikan persembahan secara sukarela kepada Allah. Dalam perkara ini, Allah tidak meminta orang Israel untuk memberikan dalam jumlah yang telah ditentukan oleh Allah. Ini semua tergantung kepada orang Israel. Apa yang mereka perbuat merupakan tindakan iman mereka kepada Allah. Tidak ada jumlah tertentu yang ditentukan semuanya berdasarkan hati mereka di hadapan Allah. Pemberian puncak pada masa hukum Taurat bukanlah pajak. Ini berbeda dengan pemberian wajib yang diminta Allah kepada bangsa Israel sebagai negara teokrasi yang adalah pajak. Pemberian sukarela di sini bukan pada perkara jumlah melainkan sikap hati dan kualitas dari si pemberi. Kita dapat menemukan kisah ini di dalam Keluaran 25:1-2, 21, 22; Ulangan 16: 10, 17; Keluaran 36:5, 6; Bilangan 18:12 dan juga dalam Amsal 11:24. Ini semua berkaitan dengan sikap hati dari si pemberi bukan kepada jumlahnya.

Sekarang kita mengetahui, bahwa pada zaman hukum Taurat, bangsa Israel memberi tidak hanya sebesar 10% saja, mereka justru memberi melebihi dari 10%. Pertanyaan kita, apakah pada zaman sekarang kita harus memberi persepuluhan sebagai bagian dari sistem perpajakan kita kepada Allah sama seperti bangsa Israel? Benarkah persepuluhan masih berlaku pada masa sekarang ini? Untuk itu kita perlu mengetahui aturan yang berlaku pada masa sekarang ini atau zaman gereja.

 

3.     Zaman Gereja

Apakah perpuluhan masih berlaku pada zaman Kasih Karunia atau zaman gereja? Berdasarkan Kitab Suci, semua upacara dan simbol-simbol agama yang dimiliki bangsa Israel telah dipakukan di kayu salib. Ini membuat pemberian wajib pada masa hukum Taurat yaitu perpuluhan telah ditiadakan.

Penulis Kitab Suci menulis, “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya” (Luk. 16:16), “Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” (Ef. 2:15) dan juga “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka. Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (Kol.2:13-17). Di dalam Kolose 2:13, 14, 16; Efesus 2:14, 15. Kita menemukan, bahwa Allah telah “menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita“ dan bahwa surat hutang itu telah ditiadakannya. Perkataan “hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya” menjelaskan bahwa seluruh sistem hukum Taurat Musa telah dibatalkan. Di dalam Kolose 2:16, terdapat perkataan “karena itu” ini menunjukkan adanya kaitan dengan ayat terdahulu yaitu ayat 13 dan 14, bahwa kematian Yesus telah menghapuskan ketentuan hukum Taurat. Demikian juga dengan “hari Sabat” yang terdapat dalam ayat 16, bahwa hari Sabat termasuk yang telah dihapuskan atau ditiadakan. Padahal kita tahu, bahwa merayakan hari Sabat termasuk perintah yang keempat dalam sepuluh hukum. Dengan demikian, kita dapat memahami, bahwa kalau sebagian dihapuskan, berarti seluruhnya juga tidak berlaku lagi.

Dengan demikian ketiga macam persepuluhan ini telah dibatalkan. Mengucapkan dengan lantang, bahwa hanya persepuluhan kedua dan ketiga saja yang dibatalkan sama saja mengatakan setengah kebenaran. Mengapa? Persepuluhan pertama pun ada pada zaman hukum Taurat. Itu berarti, persepuluhan yang pertama pun harus ditiadakan. Ketika persepuluhan pertama, kedua dan ketiga dihapuskan masihkah kita berpegang kepada aturan tersebut. Ketika kita memiliki telur ayam, kemudian menetas, manakah yang akan kita pelihara. Cangkangnya yang sudah pecah atau anak ayam yang sudah keluar dari cangkangnya. Orang yang waras pasti akan memelihara anak ayam, tetapi yang tidak waras memilih cangkang untuk terus dipelihara. Saat seseorang hanya memiliki foto kekasihnya yang sedang berperang, dan kemudian kekasihnya itu datang menemuinya. Apakah ia akan tetap memandang foto kekasihnya, padahal kekasihnya berdiri di hadapannya dengan membawa setangkai bunga mawar untuknya. Apakah ia akan mengacuhkan kekasih hatinya yang telah tiba dengan selamat di hadapannya. Pengacuhan yang dilakukannya jelas sebuah kekonyolan. Manusia yang waras tentunya akan senang melihat kekasihnya datang dengan selamat dari medan perang dan dengan penuh perasaan cinta mengungkapkan kerinduannya yang besar. Saat ini, kita tidak berada di bawah hukum Taurat, ini mengakibatkan persepuluhan (persepuluhan pertama, kedua dan ketiga) telah dibatalkan. Masihkah kita berpegang kepada aturan tersebut. Ketika Kristus telah datang, apakah kita masih berada di bawah hukum Taurat.

Sungguh disayangkan, mengajarkan persepuluhan berdasarkan hukum Taurat, tetapi meniadakan persepuluhan yang kedua dan ketiga. Seharusnya, jika anda ingin berpegang teguh pada hukum Taurat, alangkah indahnya tetap mempertahankan persepuluhan pertama, kedua dan ketiga. Bukankah sebenarnya tepat meminta lebih dari 10 persen, bukankah tidak tepat hanya menganjurkan bagi kepentingan pribadi, bahkan mempergunakan berbagai macam cara dengan alasan Tuhan menghendakinya. Ingin berpegang pada aturan hukum Taurat jangan setengah-setengah, itu sama saja sudah melanggarnya (Yak. 2:10-11). Apa yang dituntut tidak dilakukan, apa yang tidak dituntut dikerjakan. Itulah manusia.

Persepuluhan adalah pajak yang dilakukan oleh bangsa Israel pada masa hukum Taurat dan telah ditiadakan oleh Yesus Kristus sendiri. Jika demikian apakah ada pemberian wajib dan pemberian sukarela pada masa kasih karunia atau masa gereja.

 

a.     Pemberian wajib

Pada masa kasih karunia, kita harus memberi pemberian wajib, tetapi bukan persepuluhan yang dilakukan oleh bangsa Israel berdasarkan hukum Taurat. Dikatakan, 1Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. 2Sebab itu barang siapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya . . . 6Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 7Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat” (Rm. 13:1, 2, 6, 7). Tampakkah kita terang Tuhan. Kita harus membayar pajak kepada pemerintah karena mereka adalah pelayan-pelayan Allah. Allah telah menetapkan pemerintah untuk mengatur masyarakat, karena itu kita wajib membayar pajak sesuai maksud Allah.

Di dalam Kitab Matius 17:24-27, kita menemukan, bahwa Yesus membentangkan kepada kita, bahwa orang percaya patut membayar pajak, meskipun kita adalah anak-anak Raja. Jika Ia membayar pajak, meskipun Ia adalah Raja, maka kita pun demikian. Kita wajib hidup seperti Tuhan hidup (1 Yoh. 2:6). Kita memberi pajak bukan seperti aturan yang diminta Allah kepada bangsa Israel. Alasan penganut persepuluhan, bahwa Matius 23:23 adalah bukti bahwa saat ini orang percaya wajib memberi persepuluhan. Mereka berkata, bahwa jika Tuhan melarang persepuluhan tentunya Tuhan akan melarang orang Farisi melakukannya. Benarkah demikian? Yesus tidak melarang orang Farisi membayar persepuluhan karena itu adalah pajak mereka. Persepuluhan bangsa Israel adalah pajak bukan sukarela. Persepuluhan adalah kewajiban mereka kepada Allah, tidak peduli orang Farisi atau Saduki, mereka wajib membayar pajak. Misal, sebagian besar orang Amerika menolak membayar pajak pendapatan mereka. Hukum Amerika memandang hal tersebut sebagai pencurian, maka kesalahan mereka akan ditindaklanjuti dengan hukuman oleh pemerintah karena pencurian tersebut. Ketika bangsa Israel tidak membayar pajak, maka mereka sedang mencuri dari Allah yang telah mewajibkan sistem persepuluhan tersebut. Allah meminta bangsa Israel untuk memberi persepuluhan karena itu adalah pemberian wajib, bukan sukarela dan mereka memberi lebih dari 10 persen. Orang yang membayar pajak tidak dapat menyombongkan dirinya, membayar pajak bukan perkara kesombongan, tapi harus dilakukan. Mengertikah anda? Bahkan, pada masa sekarang ini, Kristus telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” (Kol. 2:15).

 

b.     Pemberian Sukarela/Puncak

Pada masa kasih karunia terdapat pemberian sukarela. Pemberian sukarela ini berdasarkan pada sikap dan kualitas dari si pemberi kepada Allah (2 Kor. 8:3-13; 9:5-12). Kita tidak memberikan persembahan seperti yang diajarkan oleh para pendukung persepuluhan. Persembahan yang kita berikan tidak berhubungan dengan tafsiran mereka. Kita memberikan persembahan sesuai dengan perintah yang Allah bentangkan kepada kita. Kita tidak meminta 10% kepada anggota jemaat tiap bulan, sebab itu tidak diajarkan oleh Kitab Suci.

 

Saudara-saudariku, kita tidak perlu lagi memberi persepuluhan berdasarkan hukum Taurat. Meskipun ini banyak ditentang oleh kaum clergy. Sering kali, kaum clergy menekankan Maleakhi 3:10, akan tetapi penekanan mereka salah. Maleakhi 3:10 adalah pajak pada masa hukum Taurat yang diberikan kedua belas suku bangsa Israel untuk mendukung kaum Lewi, mendanai perayaan keagamaan dan orang miskin, para janda dan orang asing. Allah memberi peringatan dalam Maleakhi 3:5 akan menghukum orang yang tidak menaati perintah-Nya. Dia berkata, “Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzina dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman TUHAN semesta alam”. Ini adalah perintah Allah. Bangsa Israel tidak boleh menahan hak para janda, anak piatu, orang asing dan Lewi. Namun sayang, kaum Full timer/pekerja menutupi hal ini. Mereka telah menutupi kebenaran Firman Allah. Mereka hanya meminta hak mereka, tetapi mengacuhkan hak para janda, anak piatu dan orang asing. Persepuluhan adalah untuk mendukung terselenggaranya pemerintahan Allah atas bangsa Israel. Tampakkah saudara akan hal ini? Semoga Tuhan membela kasihani.

 

C.    BAGAIMANA DENGAN ANDA

Persepuluhan modern sama dengan sebuah lotre Kristen. “Bayar persepuluhan dan Allah akan memberimu kembali banyak uang. Menolak persepuluhan, maka Ia akan menghukummu”. Inilah perkataan kaum imam. Apakah saudara lebih bersedia berkenan di hadapan manusia atau Allah. Jika saudara bersedia mengikuti Allah, maka saudara bersedia menerima konsekuensinya. Demikian pula jika saudara bersedia mengikuti perkataan manusia, maka saudara bersedia menerima konsekuensinya. Apa yang saudara putuskan memiliki konsekuensinya. Bahkan, meskipun saudara tidak mengambil keputusan, saudara telah mengambil keputusan dan menerima konsekuensi yang terjadi.

Perkara memberi bagi sebagian golongan selalu diukur berdasarkan jumlah nilai mata uang yang diberikannya. Sebenarnya jumlah tidak menjadi masalah. Yang penting bukanlah memberi banyak atau sedikit melainkan sikap hati orang percaya. Kerapkali orang percaya berkata “seandainya aku memiliki 10 milyar, maka aku akan melakukan ini dan itu”. Apakah benar demikian? Pertanyaan yang sebenarnya bukanlah apa yang akan dilakukan dengan uang 10 milyar, melainkan apa yang akan dilakukan orang percaya dengan uang 1 perak yang dimilikinya? Bahkan, kerapkali “pekerja” berpikir seandainya “jemaatku” memberikan sepersepuluh tiap bulan, maka aku akan berbuat ini dan itu. Permasalahannya apa yang “pekerja” lakukan dengan uang 1 perak yang “pekerja” miliki. Apakah orang percaya malu memberi 1 perak? Apakah “pekerja” malu menerima 1 perak. Apakah orang percaya malu menerima 1 perak? Apakah “pekerja” malu memberi 1 perak? Bukankah 1 perak itu cukup. Di dalam Pengkhotbah 5:9, 10 dikatakan, Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya”. Tidak mudah untuk tidak mencintai uang. Mengapa? Sebab kita terus menerus berurusan dengan uang. Untuk melakukan ini dan itu membutuhkan uang. Cinta uang membawa kita kepada kegagalan. Orang dapat melupakan Tuhan karena uang (Ams. 30:8-9). Semoga kita semua adalah orang yang berdiri bagi kepentingan Tuhan bukan bagi kepentingan perut kita. Maranatha.

Scroll to Top