
Mengapa Kita Menolak Perpuluhan
A.
PENDAHULUAN
Apakah saat ini
persepuluhan wajib dilakukan pemercaya Tuhan? Setidaknya ada 2 pandangan yang
menolak dan menerima. Pandangan pertama, persepuluhan wajib dilakukan dengan
berbagai macam alasan antara lain: Yang pertama, persepuluhan wajib dilakukan karena didasari aturan Hukum Taurat. Yang kedua, persepuluhan wajib dilakukan
karena diperintahkan berdasarkan aturan sebelum Hukum
Taurat ada. Yang
ketiga, persepuluhan wajib diberikan karena diajarkan oleh
Perjanjian Baru. Pandangan
kedua, persepuluhan tidak wajib dilakukan saat ini. Dari kedua pandangan
tersebut, manakah yang sesuai dengan fakta Kitab Suci? Kita
perlu kembali kepada Firman Allah sebagai fondasi kokoh dan jelas dalam menghancurkan
segala macam bentuk siasat musuh. Sebab, tidak ada satu pun perkataan manusia yang mampu
menggantikan Firman Allah. Dalam perkara ini, pendapat manusia tidak memiliki
bobot apa pun. Karena, persepuluhan bukanlah perkara spekulasi manusia, tetapi
menyangkut penyataan Kitab Suci.
1.
Berdasarkan Firman
Jika Kitab Suci berkata, bahwa saat ini orang percaya wajib memberi 10% dari penghasilannya, maka setiap orang
percaya wajib
menaatinya. Mereka tidak dapat mengatakan, bahwa
mereka tidak dapat memberi persepuluhan. Mengapa demikian? Sebab Firman Allah,
berkata orang percaya wajib memberi persepuluhan. Jika itu adalah perkataan
Allah, maka wajib dilakukan. Sebaliknya, jika itu bukan perkataan Firman Allah, tetapi hanya isapan jempol belaka, maka orang percaya dapat menolaknya. Jika saat ini
persepuluhan tidak diwajibkan oleh Firman Allah, orang percaya berhak untuk tidak mengikutinya. Orang
percaya berhak untuk menolak segala macam ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Allah; orang percaya patut untuk
menolak tegas ajaran manusia; segala ajaran yang tidak bersumber pada Firman Allah dapat ditolak. Ingat saja, jika saat
ini Firman Allah mewajibkan orang percaya memberikan persepuluhan, maka setiap
orang percaya wajib tunduk dan taat memberikan persepuluhan sesuai dengan
aturan yang berlaku tanpa menyingkirkan sedikit pun aturan yang telah
ditetapkan oleh Firman Allah. Mengertikah kita akan hal ini?
Persepuluhan bukanlah perkara menguntungkan salah satu pihak, melainkan mutlak bagi Allah.
Allah mengatakan ’apa’, itulah yang
harus dikerjakan, tanpa menggunakan dalih apa pun dalam memuaskan hawa nafsu daging. Jika Allah memerintahkan A, maka itulah yang harus dikerjakan, jika Allah mengatakan B, maka itu juga yang wajib
dikatakan. Bukan sebaliknya, ketika Allah memerintahkan A justru mengerjakan B,
ketika Allah berkata B, justru mengatakan A. Seharusnya, ‘apa’ yang Allah perintahkan itulah yang dikerjakan, bukan apa yang Allah larang
dikerjakan. Setiap orang percaya perlu sadar, bahwa bukan karena orang di sekitarnya memberi persepuluhan, maka memberi persepuluhan. Demikian pula bagi golongan pekerja, bukan
karena banyak pekerja menerima persepuluhan, maka mewajibkan adanya
persepuluhan untuk mendapatkan uang. Setiap orang percaya perlu kembali kepada perkataan Firman Allah.
Jika Firman Allah berkata A, maka setiap orang percaya perlu mengetahui dan
melakukan dengan tepat apakah A itu
sesungguhnya, tanpa harus mengikuti perkataan manusia yang menyimpang. Ketika orang percaya mencoba berdiri di atas pengalaman seseorang, maka
ia akan mudah terjebak. Persepuluhan bukanlah perkara pengalaman seseorang, melainkan apa yang dinyatakan oleh
Firman Allah. Ketika seseorang berkata kepada kita, bahwa dirinya telah pergi
naik ke surga berkali-kali dan menceritakan “ini” dan “itu” mengenai surga, itu bukan berarti kita percaya, bahwa surga itu ada sesuai
dengan kesaksiannya, melainkan kita percaya surga itu ada hanya berdasarkan
perkataan Firman Allah. Mempercayai surga itu ada berdasarkan perkataan
manusia, sungguh keterlaluan, ini menyesatkan. Kita seharusnya hanya percaya
Firman
Allah, ketika Firman Allah berkata surga itu ada, maka kita
percaya, bahwa surga itu ada. Jika Firman Allah berkata surga itu tidak ada,
maka kita percaya, bahwa surga itu tidak ada. Ada atau tidak adanya surga sepenuhnya
mutlak hanya berdasarkan Firman Allah. Apa yang tidak sesuai
dengan Firman Allah patut ditolak. Jika Firman Allah berkata, saat ini
persepuluhan wajib diberikan, maka wajib melakukannya.
Bagi kita, apakah Allah memerintahkan kita memberi
perpuluhan? Jika Allah memerintahkan kita melakukannya, maka kita
harus melakukannya. Tidak menjadi soal, apakah kita diberkati atau tidak; tidak menjadi soal, apakah kita miskin atau kaya dan tidak menjadi soal, apakah kita menderita atau tidak, sebab bagi kita, kita hanya mau
mengikuti perkataan
Allah. Sebaliknya, jika Allah tidak memerintahkannya, maka kita
pun
tidak melakukannya. Kita hanya mengikuti kehendak Allah
bukan kehendak manusia. Mengertikah Anda? Kita perlu tahu satu hal, bahwa
masalah kita adalah apakah kita melakukan segala sesuatunya berdasarkan
kehendak Allah, jika tidak segera hentikan.
Ketika kita mengikuti kehendak Allah, maka hubungan kita dengan Allah tidak
akan mengalami permasalahan, hubungan mereka tidak akan memiliki sekatan dengan Allah. Hubungan dengan pemercaya lainnya pun tidak merendahkan, melainkan sebuah hubungan yang mutlak bagi Tuhan.
Tidak hanya itu saja, musuh Allah pun
tidak akan mampu menjebak orang percaya, dalam hal ini.
2.
Siasat Musuh
Persepuluhan adalah perkara penting, oleh karena itu setiap orang percaya perlu mendapat kejelasan tentang persepuluhan. Setiap bagian terkecil yang berhubungan
dengan persepuluhan perlu disingkapkan tanpa bermaksud untuk menyenangkan hati manusia,
melainkan hanya hati Allah semata. Setiap bagian demi bagian perlu kejelasan
untuk mempermalukan siasat musuh. Siasat musuh perlu dibongkar, jika orang
percaya tidak membongkarnya, maka mudah terjebak oleh musuh Allah. Namun sangat
disayangkan, tidak sedikit orang percaya terjebak siasat musuh Allah yang
mencoba menyembunyikan kebenaran Firman Allah. Mengapa demikian? Tidak sedikit
orang percaya tidak menguji perkataan pekerjanya, padahal Kitab Suci
mengatakan, ”Ujilah segala sesuatu dan
peganglah yang baik” (1 Tes. 5:21). Tidak heran, ketika Firman Allah
menyatakan, bahwa persembahan mereka keliru, maka dengan mudahnya mengatakan “sesat” ataupun berkata, “setiap pekerja atau full timer memiliki
perbedaan pengertian” ataupun “menurut pekerja atau full timer saya, persepuluhan
itu ada”. Apakah Anda seperti itu?
Tidak hanya ada orang percaya yang terjebak oleh siasat musuh Allah karena
tidak menguji ajaran pekerjanya. Ada juga orang percaya yang terjebak oleh
musuh Allah karena salah dalam menguji. Ada beberapa sumber kesalahan yang
dilakukan oleh orang percaya dalam melakukan pengujian.
Pertama, kepandaian. Ada orang percaya yang beranggapan bahwa
kepandaian adalah standar utama perkara rohani. Tidak heran, setiap perkataan pekerja/full
timernya pasti mutlak benar, bahkan lebih unggul dari Kitab Suci. Anggapan
ini jelas keliru. Menggunakan kepandaian sebagai sumber kebenaran adalah
keliru. Di dalam Kitab Suci dikatakan, ”Jawab
Yesus: ”Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu”
(Yoh. 3:10). Siapakah yang dimaksud Tuhan? Nikodemus, tetapi mengapa Nikodemus
tidak mengerti perkataan Tuhan? Apakah ia bodoh, bukankah dia adalah seorang
Farisi, seorang pemimpin agama Yahudi? Dengan demikian, kepintaran tidak
menjamin dirinya mengenal kebenaran Firman Allah. Bukankah kita mengetahui
Apollos adalah orang yang menonjol dalam Kitab Suci. Tetapi, tahukah Anda,
Apollos tidak tahu kebenaran? Apollos perlu diajar oleh Priskila dan Akwila
(Kis. 18:24-28); 19:1-7). Jika kepandaian menjadi landasan Anda, maka Anda
mudah tersesat.
Kedua, kesukaan. Ada orang percaya yang mencoba membenarkan persepuluhan
atas dasar saya suka itu. Dalam mengikuti Tuhan kita harus memperhatikan apa
yang Allah suka, bukan tentang apa yang kita suka. Dalam memberi persembahan
kita harus menyenangkan Allah bukan menyenangkan diri sendiri. Allah telah
memberitahukan kepada kita cara menyenangkan hati-Nya adalah melakukan apa yang
Dia firmankan.
Ketiga, mujizat. Ada orang percaya menguji kebenaran atas dasar
mujizat. Jika mereka menemukan bahwa pemimpin rohaninya bisa melakukan mujizat,
maka pengajarannya mutlak benar. Menggunakan mujizat sebagai sumber utama dalam
menentukan kebenaran Firman Allah sangat menyesatkan. Jangan berprasangka, mujizat
adalah sumber utama dalam menentukan kebenaran mengenai persepuluhan. Jika Anda
membaca Kitab Suci, Anda akan menemukan, bahwa ada orang yang sanggup
mengadakan tanda-tanda mujizat, tetapi pembuat kejahatan (Mat. 7:22-23). Sadarkah
Anda.
Keempat, jumlah anggota. Ada orang percaya yang menguji perkara
kebenaran berdasarkan jumlah pengikut. Mereka berkeyakinan bahwa semakin banyak
pendukung, maka semakin benar. Jika demikian, Anda telah menyalahpahami Kitab
Suci. Membaca Kitab Suci, kita temukan dari 12 pengintai hanya 2 orang yang
memihak Allah dan 10 orang melawan Allah (Bil. 13). Itu berarti jumlah orang tidak
menjamin kebenaran. Apakah Anda nampak hal ini?
Menguji kebenaran Firman Allah berdasarkan kepandaian, kesukaan, mujizat dan
jumlah anggota adalah keliru. Karena kesalahan Anda dalam menguji segala
sesuatu, Anda terjebak oleh janji palsu
full
timer
atau pekerja. Anda termakan oleh berita-berita yang hanya memuaskan
keinginan daging semata. Berita Firman yang didengar bukan bersumber pada
Firman Allah, melainkan isapan jempol manusia belaka. Janji-janji manis
diberikan full
timer
atau segolongan imam seolah-olah Allah akan memberkati
persepuluhan Anda setiap bulan. Tidak heran, Anda berpikir, Allah akan
menjadikan Anda kaya raya, karena Anda telah memberikan persepuluhan. Ini berarti, kekayaan menjadi tujuan utamanya dan menjadikan Allah
sebagai alat pemuas materi manusia.
3.
Ketidaktepatan ”Sekelompok Imam”
Perkara persepuluhan ini untuk “segolongan
imam” memang sangat menyukakan hati. Mengapa? Perut. Persepuluhan merupakan mata pencaharian tetap menurut waktu yang telah ditetapkan. Tidak
heran, berbagai cara dilakukan guna mempertahankan pemasukan. Ada
yang mengacuhkan atau mengabaikan jemaatnya, ada yang menghentikan pelayanan
jemaatnya, ada yang mengancam jemaatnya secara halus untuk keluar dari
gerejanya dan ada juga yang mengukur kedewasaan
rohani jemaatnya berdasarkan persepuluhan. Bahkan,
ada yang mendatangi setiap rumah jemaatnya untuk segera melunasi tunggakan persepuluhan
dengan membawa
amplop yang wajib diisi jemaatnya. Jika jemaatnya tidak memberi, maka jemaatnya di cap sebagai pencuri yang mencuri uang Tuhan
dan dipastikan tidak akan diberkati Tuhan.
Kaum imam, di mana pun dan kapan pun senantiasa memberitakan persepuluhan, meskipun
temanya bukan mengenai persepuluhan. Bahkan, ada kaum imam yang tidak hanya menimbun persepuluhan, tetapi juga menguras apa yang ada pada jemaatnya sampai tidak ada yang tersisa, jika ada hanya yang menempel di badan jemaatnya. Anggota
jemaatnya hanya diperlakukan sebagai mesin penambah kekayaan pribadinya. Tetapi, tidak mengapa sebab bagaimana pun juga, Kristus diberitakan, baik
dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Ada orang yang memberitakan Kristus
karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan
maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, tetapi yang lain
karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas.
Saudara-saudariku, sebagai pengikut Tuhan, kita harus memiliki kesetiaan pada Firman Allah bukan kepada perkataan
manusia. Kita harus menerima kebenaran Firman Allah bukan menyukai
tutur kata “full timer” atau “pekerja”. Apakah Anda lebih menerima
perkataan manusia dibandingkan dengan perkataan Allah. Semoga Tuhan membela
kasihani Anda.
B.
PEMBAGIAN
ZAMAN
Sekarang yang perlu ketahui ialah apakah saat ini orang percaya wajib memberikan
persepuluhan? Untuk kita mengerti tentang hal ini, mari kita melihat perkara
memberi menurut tiga zaman yaitu zaman sebelum hukum Taurat, Zaman hukum Taurat
dan Zaman anugerah atau Gereja.
1.
Zaman Sebelum Hukum Taurat
Pendukung persepuluhan menekankan, bahwa persepuluhan telah ditetapkan
sebelum zaman hukum Taurat. Mereka mengatakan, ”persepuluhan tidak berasal dari hukum Taurat, melainkan berasal dari
perjanjian anugerah yang diberikan kepada Abraham yang dilayani oleh
Melkisedek, 430 tahun sebelum hukum Taurat ada. Maka persepuluhan tercakup
kepada imamat Melkisedek dan perjanjian Abraham yang lebih tinggi daripada
imamat Lewi dan perjanjian Taurat”. Oleh karena itu, pada masa sekarang
(kasih karunia) orang Kristen wajib memberikan persepuluhan. Mereka menerangkan, bahwa bukti tersebut terdapat di dalam Kejadian
14:17-20, yakni pertemuan Abraham dengan Melkisedek dan Kejadian 28:10-22,
yakni mimpi Yakub di Betel. Inilah bukti kuat untuk meyakinkan, bahwa orang
Kristen wajib memberi persepuluhan. Di dalam Kitab Suci dikatakan, ”Setelah Abram
kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan
dia, maka keluarlah raja Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe, yakni Lembah
Raja. Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah
Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: ”Diberkatilah kiranya Abram
oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang
Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.” Lalu Abram memberikan
kepadanya sepersepuluh dari semuanya” (Kej. 14:17-20).
Di sini, Abraham
memberikan persepuluhan kepada Melkisedek. Oleh karena itu, orang
percaya perlu mengikuti teladan Abraham sebagai bapa semua orang percaya.
Kemudian, mereka menunjukkan bagian lainnya di dalam Kitab Suci yang mendukung
pandangan mereka tentang kewajiban orang Kristen memberi persepuluhan di mana
dikatakan,
”20Lalu
bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan
yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk
dipakai, 21sehingga aku selamat kembali ke rumah
ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. 22Dan
batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala
sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu” (Kej.
28:20-22). Berdasarkan Kejadian 28:20-22, orang percaya diwajibkan untuk
memberikan persepuluhan kepada Allah.
Berdasarkan argumentasi Abraham dan Yakub, pendukung
persepuluhan menerangkan, bahwa saat ini orang Kristen wajib memberi persepuluhan. Dalam Kisah
Abraham, Melkisedek diberi persepuluhan oleh Abraham dan dalam kisah Yakub
ditemukan, bahwa Yakub berjanji untuk memberikan sepuluh persen dari segala apa
pun yang diperolehnya yang ia terima dari Allah (Kej. 28:22). Allah meminta dengan sangat tegas dan pasti sebesar 10% dari
mereka. Dalam kitab Kejadian, Allah meminta jumlah yang harus dikembalikan oleh
Abram dan Yakub kepada Allah sebesar 10% bukan sebesar 5% atau 9%. Bahkan,
penganut persepuluhan menerangkan bahwa memberi sepersepuluh adalah perintah
yang saat ini wajib dilakukan orang percaya, sebab persepuluhan Abraham dan
Yakub dilakukan sebelum hukum Taurat berlaku.
Bagi penganut persepuluhan, kisah Abraham dan Yakub adalah acuan tepat
dalam Kitab Suci, di mana orang percaya wajib memberi sepersepuluh kepada
gembalanya (Kej.
14:20; Kej. 28:22). Bahkan,
mereka
mengutip di bagian lain dalam Perjanjian Baru yakni Matius 23:23,
bahwa persepuluhan sebelum hukum Taurat itu tidak dihapus karena sewaktu orang
Faris memberi persepuluhan, Tuhan Yesus tidak melarangnya. Ini menerangkan,
jika Yesus menghendaki orang percaya tidak memberi sepersepuluh dari
kekayaannya, tentunya Dia akan mengatakan kepada orang Farisi untuk tidak
melakukannya. Dengan demikian, saat ini orang percaya wajib memberikan
sepersepuluh, sebab Yesus sendiri tidak mengecam orang Fairisi tersebut dalam perkara
memberi persepuluhan.
Benarkah orang percaya
diwajibkan memberikan persepuluhan
berdasarkan aturan sebelum hukum Taurat? Untuk kita mengetahui, apakah
pemercaya Tuhan wajib memberikan persepuluhan pada saat ini, maka kita perlu
mengetahui bahwa pada masa sebelum hukum Taurat ada dua macam pemberian yang
dilakukan yakni pemberian puncak dan wajib. Mengetahui kedua macam pemberian
ini memudahkan pemercaya-Nya untuk menolak, bahwa saat ini pemercaya Tuhan wajib
memberikan persepuluhan.
a.
Pemberian Puncak
Kata Ibrani maeser memiliki arti “sepersepuluh bagian” yang diterjemahkan
persepuluhan. Kata ini sebanding dengan kata Yunani yaitu dekate yang memiliki arti “kesepuluh”.
Ini merupakan sebuah istilah matematika, bukan istilah agama. Akan tetapi,
istilah itu dapat dipakai dalam ilmu teologi atau matematika.
Kata persepuluhan yang dipergunakan di dalam Kitab Kejadian mengacu kepada
persembahan sukarela, bukan kepada persembahan yang diwajibkan atau yang
dituntut oleh Allah. Pemberian yang dilakukan oleh Abraham dan Yakub adalah
pemberian sukarela dan tidak sama dengan pemberian persepuluhan di bawah hukum
Musa. Memberi sepersepuluh pada zaman sebelum hukum Taurat melambangkan memberi
seluruhnya. Banyak ilah-ilah orang kafir dihormati dengan cara memberi
sepersepuluh. Alasannya? Angka sepuluh menggambarkan kesempurnaan. Jika ada
orang yang memberi sepersepuluh kepada Allahnya, hal itu adalah lambang bahwa
dia memberi semua miliknya yaitu penyerahan yang menyeluruh.
Dalam kitab Kejadian Allah tidak pernah menuntut persepuluhan baik dalam
kisah Adam dan Hawa (Pasal 2-5), kisah Kain dan Habel (Pasal 4), kisah Nuh
(Pasal 8), kisah Abraham (Pasal 12-14), kisah Ishak (Pasal 21-28), kisah Yakub
(Pasal 28), kisah anak-anak Yakub (Pasal 32-50). Tetapi, mari kita akan
membatasi hal ini dalam kisah-kisah tertentu, mengapa? Membaca Kitab Suci
dengan tepat, mendapatkan kebenaran dan mampu mengalahkan siasat musuh.
1)
Kisah Kain dan Habel (Pasal 4)
Sekarang, mari kita membaca Kejadian 4:1-5 di mana dikatakan, ”1Kemudian manusia itu bersetubuh dengan
Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka
kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan
pertolongan TUHAN.” 2Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik
Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. 3Setelah
beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu
kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 4Habel juga mempersembahkan korban
persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN
mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 5tetapi
Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi
sangat panas, dan mukanya muram”. Membaca Kitab
Suci secara tepat mampu melepaskan kita dari dongeng nenek moyang serta mendapatkan
terang Tuhan. Dalam kisah Kain dan Habel, kita tidak menemukan bahwa Allah meminta kepada mereka untuk memberi persepuluhan
dari hasil kekayaan mereka setiap bulannya. Apakah kita menemukan, bahwa Kain
dan Habel, menyetor persepuluhan setiap bulan kepada Allah? Berdasarkan kisah
Kain dan Habel, kita tahu bahwa mereka memberi berdasarkan kemauan mereka. Bahkan,
berdasarkan ayat 3 dan 4, kita dapat menarik kesimpulan, apakah benar bahwa Habel hanya memiliki 10 ekor domba? Tentunya kita tidak
akan berpikir bahwa Habel memiliki hanya 10 ekor domba saja.
2)
Kisah Nuh
(Pasal 8)
Setelah selesai membaca Kejadian 4:1-5, para pembaca hendaklah memperhatikan
Kejadian 8:15-22 dikatakan, “15Lalu
berfirmanlah Allah kepada Nuh: 16“Keluarlah dari bahtera itu, engkau
bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu; 17segala
binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung,
hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar
bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta
berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.” 18Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan
anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya. 19Segala
binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak
di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu. 20Lalu
Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan
dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia
mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. 21Ketika
TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya:
“Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan
hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi
segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. 22Selama bumi masih ada, takkan
berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan,
siang dan malam”. Asal saja, kita
membaca Kitab Kejadian dengan tepat maka akan nampak, bahwa persembahan Nuh merupakan ungkapan terimakasih kepada
Allah dan Allah tidak menuntut Nuh memberikan persepuluhan. Mengatakan lantang,
bahwa setelah Nuh keluar dari bahtera memberikan persepuluhan dari hasil
kekayaannnya adalah perkataan yang tidak tepat.
3)
Kisah Abram/Abraham
(Pasal 12-14)
Selanjutnya, di dalam Kitab Suci dikatakan, “Ketika itu TUHAN
menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini
kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah
menampakkan diri kepadanya” (Kej. 12:7). Tindakan Abram mendirikan mezbah merupakan tanggapan Abram terhadap
panggilan Allah atas dirinya. Apa yang dilakukan oleh Abram bukanlah perkara
persepuluhan. Demikian pula dengan Kejadian 13:18, dikatakan, ”Sesudah itu Abram
memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat
Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN”. Membaca tepat Kitab Suci mendapatkan kebenaran, Abram tidak memberikan
sepersepuluh kepada Allah, melainkan Abram melakukan suatu pendirian mezbah
yang dilakukannya dengan sukarela. Ini
membuktikan, bahwa mendasari persepuluhan berdasarkan Kejadian 13:18 tidak
tepat. Orang Kristen tidak diwajibkan memberikan sepersepuluh tiap bulan dari hasil
kekayaannya dengan memakai Kejadian 13:18. Jika saudara memaksakan orang
percaya memberikan persepuluhan berdasarkan Kejadian 13:18 adalah dongeng manusia
yang mengalami kejatuhan.
Kemudian, kita perlu membaca Kejadian 14:14-20 secara tepat di mana dikatakan, ”14Ketika
Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah
orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus
delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan. 15Dan
pada waktu malam berbagilah mereka, ia dan hamba-hambanya itu, untuk melawan
musuh; mereka mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara
Damsyik. 16Dibawanyalah kembali segala harta benda
itu; juga Lot, anak saudaranya itu, serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian
juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya. 17Setelah Abram kembali dari mengalahkan
Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan dia, maka keluarlah raja
Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe, yakni Lembah Raja. 18Melkisedek,
raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. 19Lalu
ia memberkati Abram, katanya: “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang
Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, 20dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang
telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.” Lalu Abram memberikan kepadanya
sepersepuluh dari semuanya”. Membaca apa
yang tertulis dalam Kitab Suci mendapati terang, kita menemukan tiga fakta penting.
Pertama, Abram tidak memberikan sepersepuluh dari segala sesuatu
yang ia miliki. Pemberiannya itu bukanlah sepersepuluh dari seluruh pendapatan
atau kekayaan Abram (Kej. 12:5; 13:1-2).
Pemberian Abram kepada Melkisedek adalah hasil dari kemenangannya atas
Kedorlaomer dan para raja lain. Kita perlu membandingkan hal ini dengan bagian
yang lain yakni Ibrani 7:4. Alkitab tidaklah sesederhana itu, kita perlu
menyelidiki perkara ini dengan tepat. Di dalam Ibrani 7:4 dikatakan, “Camkanlah betapa besarnya orang itu, yang
kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala
rampasan yang paling baik”. Perhatikan
perkataan “sepersepuluh dari segala
rampasan yang paling baik”. Kata Yunani yang dipakai untuk “rampasan” adalah akrothinion. Kata akrothinion
ini memiliki arti “puncak, paling tinggi,
puncak dari suatu timbunan”. Setelah kita
membaca tepat kitab Kejadian dan kitab Ibrani, maka ditemukan, bahwa apa yang
Abram berikan bukanlah berdasarkan seluruh kekayaan yang dimilikinya. Apa yang
diberikan oleh Abram berasal dari rampasan (akrothinion),
Abram memberi sepersepuluh dari puncak timbunan itu. Abram tidak memberi
sepersepuluh dari semua rampasan, tetapi memberi sepersepuluh dari semua
rampasan yang paling baik. Rampasan yang paling baik inilah yang di bawa oleh
Melkisedek, mengingat ia hanya seorang diri tidaklah mungkin ia membawa
sepersepuluh dari harta benda lima orang raja.
Kedua, Abram tidak dituntut Allah memberi persepuluhan
kepada-Nya. Pemberian Abram bukan berasal dari tuntutan Allah melainkan
inisiatif Abram untuk memberikan yang terbaik kepada Allah. Setelah menang
perang melawan Kedorlaomer dan para raja, Abram memperoleh banyak sekali
rampasan perang. Dalam perjalanan kembali ia bertemu dengan Melkisedek. Sewaktu
ia melihat Melkisedek Abram melakukan suatu tindakan ucapan terimakasih kepada
Allah yang telah memberikan kemenangan kepadanya dengan cara “Abram memberikan kepadanya sepersepuluh
dari semuanya” (Kej. 14:20).
Persepuluhan Abram adalah inisiatif Abram bukan tuntutan dari Allah. Mengatakan, sama seperti Abram dituntut Allah memberi
sepersepuluh dari seluruh kekayaannya kepada Allah, maka orang percaya wajib
melakukannya tidaklah tepat. Persepuluhan Abraham adalah sukarela. Allah tidak
pernah memerintahkan Abram seperti Allah memerintahkan persepuluhan kepada
bangsa Israel. Abram memberikan persembahan kepada Allah tanpa adanya paksaan
dari pihak manapun. Apakah ketika Abram memberikan persembahan sepersepuluh ia
mengalami tekanan? Apakah ketika Abram dipanggil keluar dari negerinya, Allah
meminta kepada Abram untuk tidak lupa memberi sepersepuluh dari kekayaannya?
Apakah ada perjanjian antara Allah dan Abram mengenai sepersepuluh ketika ia
dipanggil keluar dari negerinya? Apakah ia dituntut oleh Tuhan untuk wajib
memberikan sepersepuluh dari kekayaannya kepada Tuhan? Membaca berulang kali
Kitab Kejadian, tidak akan menemukan Abram dituntut Allah memberi persepuluhan.
Perbuatan Abram adalah ucapan terimakasih kepada Allah.
Ketiga, Abram hanya satu kali saja memberikan persepuluhan di
sepanjang 175 tahun hidupnya di muka bumi. Apakah kita menemukan Abram
melakukannya setiap bulan? Di kitab manakah Abram memberi persepuluhan sebanyak
dua kali? Jika kita membaca kitab Kejadian dengan tepat, maka kita tidak akan
menemukan bahwa Abram memberi persepuluhan sebanyak dua kali. Jadi,
menggunakan kisah Abraham untuk mendukung persepuluhan setiap bulan berdasarkan
nominal angka seperti yang diajarkan oleh banyak pekerja adalah kekeliruan.
Saudara-saudariku, apakah Anda menjadikan Abram sebaga teladan yang harus
diikuti dalam memberi persepuluhan? Jika Anda menggunakan Abram sebagai teladan
dalam memberi persepuluhan, maka Anda hanya diharuskan untuk memberi persepuluhan
sekali saja selama Anda hidup di muka bumi dan pemberian Anda itu adalah
sukarela tanpa paksaan dari pihak manapun.
4)
Kisah Yakub
(Pasal 28)
Sekarang, mari kita membaca Kejadian 28:18-22 dikatakan, ”18Keesokan
harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan
mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. 19Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama
kota itu Lus. 20Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan
menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan
kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, 21sehingga aku selamat kembali ke rumah
ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. 22Dan
batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala
sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh
kepada-Mu”.
Pengajar persepuluhan menerangkan, bahwa pada masa ini, orang Kristen wajib memberi sepersepuluh dari kekayaannya berdasarkan
kisah Yakub. Ketika Yakub bermimpi, dia melihat tangga yang terhubung mencapai
surga. Pada keesokan harinya, Yakub mengalami sebuah perubahan total dalam
hidupnya, dia mengalami suatu transformasi penuh, Yakub menjadi manusia yang
baru, yang terlahir kembali, Yakub yang serakah, licik, penipu, berubah menjadi
Israel si pemenang. Mengapa demikian? Perhatikanlah apa yang dikatakan Yakub “Dari segala sesuatu yang Engkau berikan
kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu” (Kej. 28:22). Ini membuktikan, sama seperti Yakub memberi persepuluhan demikian
pula orang Kristen wajib memberi persepuluhan. Benarkah apa yang
ditafsirkannya? Membaca tepat Kejadian 28:22 akan menentang tafsiran mereka.
Sekarang, mari kita melihat
perkataan “bernazarlah Yakub” ini
menunjukkan, bahwa Yakub adalah pribadi yang meragukan Tuhan. Jika sepersepuluh
merupakan kewajiban tentunya Yakub tidak perlu bernazar. Kita dapat melihat
dengan jelas, bahwa Yakub memberi sepersepuluh dalam upaya menyogok Allah (ayat
20-22). Bukankah, Yakub bersedia memberi sepersepuluh kepada Allah, jika Allah
menyediakan keinginannya. Yakub sedang mencoba membujuk Allah, perbuatan Yakub
memberi sepersepuluh kepada Allah adalah jauh dari kebenaran. Bahkan, apakah
kita menemukan, bahwa Allah meminta Yakub untuk setiap bulan memberi
sepersepuluh kepada-Nya. Membaca sebanyak 40 kali pun tidak akan menemukan,
bahwa Allah meminta Yakub memberikan sepersepuluh kepada-Nya.
Saudara-saudariku, persepuluhan pada zaman sebelum hukum Taurat bukanlah
pada jumlahnya. Mereka memberi persembahan sukarela kepada Allah bukan
persembahan wajib. Pemberian mereka berasal dari diri mereka. Pemberian Abram
dan Yakub kepada Allah adalah sukarela, digerakkan oleh diri sendiri. Dan, mereka memberi apa yang biasa diberikan pada zamannya, yaitu sepersepuluh,
yang merupakan lambang yang menerangkan, bahwa mereka telah memberikan semua yang mereka miliki kepada Allah. Apakah
ketika mereka memberikan sepersepuluh merupakan kewajiban yang telah ditentukan
hari, minggu, bulan dan tahun? Apakah sepersepuluh yang mereka lakukan adalah
suatu rutinitas yang biasa dilakukan? Tidak ada satu bukti pun, bahwa Allah
menuntut mereka dalam hari, bulan bahkan tahun tertentu untuk memberikan
sepersepuluh dari kekayaannya kepada Allah. Kita tidak menemukan, bahwa Abram
dan Yakub setiap bulan berkewajiban memberi persepuluhan.
Membaca Kitab Suci, Yakub tidak diajar oleh Ishak memberi persepuluhan setiap
bulan kepada Allah. Apakah Yakub diajar oleh Ishak mengenai sepersepuluh
sehingga “bernazarlah Yakub” dalam
mempersembahkan sepersepuluh kepada Allah sebagai suatu kewajiban? Apakah Ishak
diajar oleh Abraham sehingga kita menemukan teladan Ishak memberikan
sepersepuluh kepada Allah sebagai suatu kewajiban. Apakah Ishak diwajibkan
mempersembahkan sepersepuluh dari kekayaannya kepada Allah oleh Abraham.
Pemberian Abram dan Yakub bukan berdasarkan pada suatu jumlah tertentu, melainkan
berdasarkan puncak tertinggi untuk memberi, bisa saja memberi satu perak atau
bahkan lebih besar dari satu perak. Pantaskah memberi kepada Tuhan dengan nilai
satu perak atau pantaskah mereka memberi dengan nilai yang lebih dari satu
perak. Memberi satu atau lebih dari satu perak pun tidak akan menjadikan
Allah sebagai pengemis. Kurang kayakah Allah
sehingga Ia mengemis untuk meminta satu perak dari manusia, kekurangankah Allah
sehingga Ia berharap lebih dari satu perak. Persentase atau jumlah, tidak
menyebabkan Allah kekurangan atau bertambah kaya. Sikap hati seperti Abrahamlah
yang membuat Allah menerima apa yang dipersembahkan kepada-Nya. Prinsipnya
adalah mereka memberi nilai yang tertinggi pada Alah. Nilai tertinggi di sini
sekali lagi bukan pada 10%, melainkan sukarela. Pemberian ini ditujukan kepada Allah.
b.
Pemberian Seperlima Bagian
Membaca Kitab Suci perlu menjamah maksud si penulis. Asalkan kita
menjamahnya, maka mendapati kebenaran. Sebaliknya, mempertahankan konsepsi
usang akan mendapatkan kekacauan. Menjamah Kitab Kejadian 41:33-34 dan Kejadian
47:24-26, kita menemukan, bahwa Allah meminta seperlima bagian dari hasil tanah
di Mesir bagi kesejahteraan rakyat mesir. Di dalam Kejadian 41:33-34 dikatakan, ”Oleh sebab itu,
baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan
mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir. 34Baiklah juga tuanku
Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan
dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir”. Kemudian, di dalam Kejadian 47:24-26 dikatakan, “Mengenai hasilnya,
kamu harus berikan seperlima bagian kepada Firaun, dan yang empat bagian lagi,
itulah menjadi benih untuk ladangmu dan menjadi makanan kamu dan mereka yang
ada di rumahmu, dan menjadi makanan anak-anakmu.” Lalu berkatalah mereka:
”Engkau telah memelihara hidup kami; asal kiranya kami mendapat kasih tuanku,
biarlah kami menjadi hamba kepada Firaun.” Yusuf membuat hal itu menjadi suatu
ketetapan mengenai tanah di Mesir sampai sekarang, yakni bahwa seperlima dari
hasilnya menjadi milik Firaun; hanya tanah para imam tidak menjadi milik Firaun”.
Ini mememperlihatkan, bahwa selama tujuh tahun, pemerintah Mesir wajib mengumpulkan pajak sebesar
seperlima dari hasil tanah Mesir. Pemberian wajib ini dilakukan oleh pemerintah
untuk membiayai keperluan rakyatnya.
Dengan demikian, kita mengetahui,
bahwa pada masa sebelum hukum Taurat, ada dua
macam persembahan yakni persembahan puncak dan persembahan wajib. Persembahan
puncak adalah persembahan yang diberikan Abraham kepada Allah dengan sukarela.
Persembahan itu merupakan puncak dari timbunan dan tidak menuntut jumlah. Jika demikian, apakah sekelompok imam akan menuntut ”jemaat”
untuk memberikan sepersepuluh dari penghasilannya, padahal Tuhan tidak menuntut
Abraham memberikan sepersepuluh dari seluruh kekayaannya. Abraham memberikan
berdasarkan sikap hatinya kepada Allah. Sedangkan, persembahan wajib adalah persembahan yang
diberikan oleh rakyat kepada pemerintahan Mesir.
Persembahan ini diberikan untuk keperluan rakyat. Persembahan itu merupakan
kewajiban bukan sukarela.
2.
Zaman Hukum Taurat
Sekarang, kita perlu mengetahui, apakah saat ini orang
percaya wajib memberi persepuluhan? Tidak sedikit orang berkata, bahwa saat ini orang percaya wajib memberi
persepuluhan karena telah ditetapkan pada Zaman Hukum Taurat. Mereka
berargumentasi, bahwa Kitab Suci mengatakan, “Bawalah seluruh persembahan
persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan
di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak
membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai
berkelimpahan” (Mal. 3:10). Ini
berarti, orang percaya perlu memberi persepuluhan, sebab ini
adalah perintah Tuhan dan masih berlaku sampai
saat ini, serta wajib dilakukan oleh orang
percaya. Inilah alasan yang diajukan oleh mereka yang
mengatakan, bahwa persepuluhan masih berlaku sampai saat ini. Akan tetapi, kita
perlu tahu, bahwa apa yang mereka ajarkan adalah setengah kebenaran. Kita harus
melihat secara keseluruhan apa yang dimaksud oleh Kitab Suci.
a.
Pemberian Tiga Puluh Persen
Pada masa hukum
Taurat (zaman Musa sampai zaman Yesus), Allah meminta bangsa Israel untuk
memberi persepuluhan. Ini adalah pemberian wajib, bukan
Sukarela. Allah mewajibkan bangsa Israel untuk memberi persepuluhan sebagai bagian dari sistem
perpajakan mereka. Persepuluhan
bangsa Israel kepada Allah adalah pajak bukan sukarela. Pajak adalah kewajiban
yang harus dilakukan oleh bangsa Israel kepada Allah. Allah mengenalkan tiga
macam persepuluhan bagi Israel sebagai bagian dari
sistem perpajakan mereka. Kebanyakan orang
hanya memahami, bahwa pemberian yang dituntut kepada bangsa Israel hanya
sebesar 10 persen. Mereka yang mengatakan, bahwa bangsa Israel hanya memberi 10
persen itu keliru. Mereka memberi lebih dari sebesar 10 persen dalam ketiga
macam persepuluhan ini. Lewi menuntut tidak hanya sebesar 10 persen kepada 12
suku bangsa Israel melainkan lebih dari 10 persen.
1)
Persepuluhan Pertama
Mengenai bani Lewi, Allah memberikan kepada mereka segala persembahan
persepuluhan di antara orang Israel yang terdiri dari 12 suku (Yusuf terbagi 2,
Manasye dan Efraim), sebagai milik pusakanya untuk membalas pekerjaan yang
dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan, orang Lewi tidak akan
mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel sebab ”Aku telah berfirman tentang mereka: Mereka tidak akan mendapat milik
pusaka di tengah-tengah orang Israel” (Bil. 18:24). Dengan demikian, kita jelas bahwa kaum Lewi memperoleh persepuluhan
dari kedua belas suku (Bil. 18:21-24),
sedangkan kedua belas suku itu tidak memperoleh persepuluhan.
Kaum Lewi menerima persepuluhan dari hasil produksi manusia dan hewan.
Persepuluhan ini adalah milik Allah dan penekanannya adalah pada jumlahnya,
jika orang Israel tidak memberikannya, maka mereka mencuri dari Allah (Mal.
3:8). Bahkan,
jika ada orang yang hendak menyimpan buah-buahnya, “ia harus menambah seperlima” (Im.
27:30-33). Ia dapat memberi
uang untuk menebus tanah dan benih dan buah-buahannya, tetapi tidak untuk
hewan. Demikianlah persepuluhan pertama adalah 10 persen dari hasil produksi
manusia dan hewan. Persepuluhan yang pertama ini berguna bagi kaum Lewi dan
disebut sebagai milik Tuhan (Im. 27:30).
2)
Persepuluhan Kedua
Di dalam Ulangan 12, kita dapat menemukan, ketika bangsa Israel diam di
negeri yang diberikan Tuhan, dikaruniakan keamanan dan diam dengan tenteram,
maka ”korban bakaran dan korban
sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala
korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN” (ay. 11) dibawa ke tempat yang dipilih Tuhan, ”bersukaria di hadapan Tuhan, kamu ini, anakmu laki-laki dan anakmu
perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di
dalam tempatmu” (ay. 12, 18) dan ”Hati-hatilah, supaya jangan engkau
melalaikan orang Lewi, selama engkau ada di tanahmu” (ay. 19). Ini merupakan persepuluhan yang lain, yang berbeda dengan persepuluhan
yang pertama. Persepuluhan yang kedua ini berguna bagi orang Israel dan
keagamaan.
3)
Persepuluhan Ketiga
Di dalam Ulangan 14:28-29; 26:12-14, kita dapat menemukan persepuluhan yang
ketiga. Persepuluhan ini ditujukan bagi orang Lewi, orang asing, anak yatim dan
janda (Ul.
14:29). Persepuluhan ini adalah untuk tidak melupakan
setiap orang yang memerlukan pertolongan.
Ini adalah persepuluhan. Ketiganya ini merupakan persembahan yang wajib untuk dituntut, yang
memiliki suatu aturan yang jelas, tentang kenapa, siapa, mengapa, di mana,
bagaimana persembahan persepuluhan ini dilakukan. Ketiganya dapat dikatakan
sebagai pajak, bukan persembahan sukarela. Ketika ini tidak dilakukan, maka mereka beroleh hukuman dari Tuhan. Sudahkah Anda melakukan ini? Bukankah Anda perlu kembali kepada kebenaran
Alkitab? Allah meminta bukan seperti apa yang kaum clergy lakukan hari ini.
Allah meminta persepuluhan seperti Dia
meminta kepada bangsa Israel. Allah mewajibkan bangsa Israel untuk memberikan
persepuluhan dan persepuluhan
bangsa Israel mencapai lebih dari 23 persen (20% per tahun dan 10% setiap tiga
tahun sama dengan 23% per tahun).
b.
Persembahan Puncak
Persembahan yang diberikan ini bukanlah pada jumlah. Ini berbeda dengan
ketiga macam persepuluhan di atas. Persembahan sukarela ini dapat kita temukan di dalam Kitab Suci antara lain, “Segala yang terbaik dari minyak dan segala
yang terbaik dari anggur dan dari gandum, yakni yang sebagai hasil pertamanya
dipersembahkan mereka kepada TUHAN, Aku berikan kepadamu” (Bil. 18:12). Di sini kita dapat menemukan, bahwa orang Israel memberikan
persembahan secara sukarela kepada Allah. Dalam perkara ini, Allah tidak
meminta orang Israel untuk memberikan dalam jumlah yang telah ditentukan oleh
Allah. Ini semua tergantung kepada orang Israel. Apa yang mereka perbuat
merupakan tindakan iman mereka kepada Allah. Tidak ada jumlah tertentu yang
ditentukan semuanya berdasarkan hati mereka di hadapan Allah. Pemberian puncak
pada masa hukum Taurat bukanlah pajak. Ini berbeda dengan pemberian wajib yang
diminta Allah kepada bangsa Israel sebagai negara teokrasi yang adalah pajak.
Pemberian sukarela di sini bukan pada perkara jumlah melainkan sikap hati dan
kualitas dari si pemberi. Kita dapat menemukan kisah ini di dalam Keluaran
25:1-2, 21, 22; Ulangan 16: 10, 17; Keluaran 36:5, 6; Bilangan 18:12 dan juga
dalam Amsal 11:24. Ini semua berkaitan dengan sikap hati dari si pemberi bukan
kepada jumlahnya.
Sekarang kita mengetahui, bahwa pada zaman hukum Taurat, bangsa Israel
memberi tidak hanya sebesar 10% saja, mereka justru
memberi melebihi dari 10%. Pertanyaan kita, apakah pada zaman
sekarang kita harus memberi persepuluhan
sebagai bagian dari sistem perpajakan kita kepada Allah sama seperti bangsa
Israel? Benarkah persepuluhan masih
berlaku pada masa sekarang ini? Untuk itu kita perlu mengetahui aturan yang
berlaku pada masa sekarang ini atau zaman gereja.
3.
Zaman Gereja
Apakah perpuluhan
masih berlaku pada zaman Kasih Karunia atau zaman gereja? Berdasarkan Kitab
Suci, semua upacara dan simbol-simbol agama yang dimiliki bangsa Israel telah
dipakukan di kayu salib. Ini membuat pemberian wajib pada masa hukum Taurat
yaitu perpuluhan telah ditiadakan.
Penulis Kitab Suci
menulis, “Hukum Taurat dan kitab para
nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah
diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya” (Luk. 16:16),
“Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia
telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk
menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan
itu mengadakan damai sejahtera” (Ef. 2:15) dan juga “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena
tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia,
sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat
hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan
itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti
pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum
dalam kemenangan-Nya atas mereka. Karena itu janganlah kamu biarkan orang
menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru
ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang,
sedang wujudnya ialah Kristus” (Kol.2:13-17). Di dalam Kolose 2:13, 14, 16; Efesus 2:14, 15. Kita menemukan, bahwa Allah telah “menghapuskan surat
hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita“
dan bahwa surat hutang itu telah ditiadakannya. Perkataan “hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya” menjelaskan
bahwa seluruh sistem hukum Taurat Musa telah dibatalkan. Di dalam Kolose 2:16,
terdapat perkataan “karena itu” ini menunjukkan adanya kaitan
dengan ayat terdahulu yaitu ayat 13 dan 14, bahwa kematian Yesus telah
menghapuskan ketentuan hukum Taurat. Demikian juga dengan “hari Sabat” yang terdapat dalam ayat 16, bahwa hari Sabat termasuk
yang telah dihapuskan atau ditiadakan. Padahal kita tahu, bahwa merayakan hari Sabat termasuk perintah yang keempat dalam sepuluh
hukum. Dengan demikian, kita dapat memahami, bahwa kalau sebagian dihapuskan, berarti seluruhnya juga tidak berlaku
lagi.
Dengan demikian ketiga macam persepuluhan ini telah dibatalkan. Mengucapkan
dengan lantang, bahwa hanya persepuluhan kedua dan ketiga saja yang dibatalkan
sama saja mengatakan setengah kebenaran. Mengapa? Persepuluhan pertama pun ada
pada zaman hukum Taurat. Itu berarti, persepuluhan
yang pertama pun harus ditiadakan. Ketika persepuluhan pertama, kedua dan
ketiga dihapuskan masihkah kita berpegang kepada aturan tersebut. Ketika kita
memiliki telur ayam, kemudian menetas, manakah yang akan kita pelihara.
Cangkangnya yang sudah pecah atau anak ayam yang sudah keluar dari cangkangnya.
Orang yang waras pasti akan memelihara anak ayam, tetapi yang tidak waras
memilih cangkang untuk terus dipelihara. Saat seseorang hanya memiliki foto
kekasihnya yang sedang berperang, dan kemudian kekasihnya itu datang menemuinya.
Apakah ia akan tetap memandang foto kekasihnya, padahal kekasihnya berdiri di
hadapannya dengan membawa setangkai bunga mawar untuknya. Apakah ia akan
mengacuhkan kekasih hatinya yang telah tiba dengan selamat di hadapannya.
Pengacuhan yang dilakukannya jelas sebuah kekonyolan. Manusia yang waras
tentunya akan senang melihat kekasihnya datang dengan selamat dari medan perang
dan dengan penuh perasaan cinta mengungkapkan kerinduannya yang besar. Saat
ini, kita tidak berada di bawah hukum Taurat, ini mengakibatkan persepuluhan
(persepuluhan pertama, kedua dan ketiga) telah dibatalkan. Masihkah kita berpegang
kepada aturan tersebut. Ketika Kristus telah datang, apakah kita masih berada
di bawah hukum Taurat.
Sungguh disayangkan, mengajarkan persepuluhan berdasarkan hukum Taurat,
tetapi meniadakan persepuluhan yang kedua dan ketiga. Seharusnya, jika anda ingin
berpegang teguh pada hukum Taurat, alangkah indahnya tetap mempertahankan persepuluhan
pertama, kedua dan ketiga. Bukankah sebenarnya tepat meminta lebih dari 10
persen, bukankah tidak tepat hanya menganjurkan bagi kepentingan pribadi,
bahkan mempergunakan berbagai macam cara dengan alasan Tuhan menghendakinya.
Ingin berpegang pada aturan hukum Taurat jangan setengah-setengah, itu sama
saja sudah melanggarnya (Yak. 2:10-11). Apa
yang dituntut tidak dilakukan, apa yang tidak dituntut dikerjakan. Itulah
manusia.
Persepuluhan adalah pajak yang dilakukan oleh
bangsa Israel pada masa hukum Taurat dan telah ditiadakan oleh Yesus Kristus sendiri.
Jika demikian apakah ada pemberian wajib dan pemberian sukarela pada masa kasih
karunia atau masa gereja.
a.
Pemberian
wajib
Pada masa kasih
karunia, kita harus memberi pemberian wajib,
tetapi bukan persepuluhan yang dilakukan
oleh bangsa Israel berdasarkan hukum Taurat. Dikatakan, ”1Tiap-tiap orang harus takluk kepada
pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari
Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. 2Sebab itu barang siapa melawan pemerintah,
ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan
hukuman atas dirinya . . . 6Itulah juga sebabnya maka kamu membayar
pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 7Bayarlah kepada semua orang apa yang harus
kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang
yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa
takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat” (Rm. 13:1,
2, 6, 7). Tampakkah kita terang Tuhan. Kita harus membayar
pajak kepada pemerintah karena mereka adalah pelayan-pelayan Allah. Allah telah
menetapkan pemerintah untuk mengatur masyarakat, karena itu kita wajib membayar
pajak sesuai maksud Allah.
Di dalam Kitab Matius 17:24-27, kita menemukan, bahwa Yesus membentangkan
kepada kita, bahwa orang percaya patut membayar pajak, meskipun kita adalah
anak-anak Raja. Jika Ia membayar pajak, meskipun Ia adalah Raja, maka kita pun demikian.
Kita wajib hidup seperti Tuhan hidup (1 Yoh.
2:6). Kita memberi pajak bukan seperti aturan yang
diminta Allah kepada bangsa Israel. Alasan penganut persepuluhan, bahwa Matius
23:23 adalah bukti bahwa saat ini orang percaya wajib memberi persepuluhan.
Mereka berkata, bahwa jika Tuhan melarang persepuluhan tentunya Tuhan akan
melarang orang Farisi melakukannya. Benarkah demikian? Yesus tidak melarang
orang Farisi membayar persepuluhan karena itu adalah pajak mereka. Persepuluhan
bangsa Israel adalah pajak bukan sukarela. Persepuluhan adalah kewajiban mereka
kepada Allah, tidak peduli orang Farisi atau Saduki, mereka wajib membayar
pajak. Misal, sebagian besar orang Amerika menolak membayar pajak pendapatan
mereka. Hukum Amerika memandang hal tersebut sebagai pencurian, maka kesalahan
mereka akan ditindaklanjuti dengan hukuman oleh pemerintah karena pencurian
tersebut. Ketika bangsa Israel tidak membayar pajak, maka mereka sedang mencuri
dari Allah yang telah mewajibkan sistem persepuluhan tersebut. Allah meminta
bangsa Israel untuk memberi persepuluhan karena itu adalah pemberian wajib,
bukan sukarela dan mereka memberi lebih dari 10 persen. Orang yang membayar
pajak tidak dapat menyombongkan dirinya, membayar pajak bukan perkara kesombongan,
tapi harus dilakukan. Mengertikah anda? Bahkan, pada masa sekarang ini, Kristus “telah
membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk
menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan
itu mengadakan damai sejahtera” (Kol. 2:15).
b.
Pemberian
Sukarela/Puncak
Pada masa kasih
karunia terdapat pemberian sukarela. Pemberian sukarela ini berdasarkan pada
sikap dan kualitas dari si pemberi kepada Allah (2 Kor. 8:3-13; 9:5-12). Kita
tidak memberikan persembahan seperti yang diajarkan oleh para pendukung persepuluhan. Persembahan yang kita berikan
tidak berhubungan dengan tafsiran mereka. Kita memberikan persembahan sesuai
dengan perintah yang Allah
bentangkan kepada kita. Kita tidak meminta 10% kepada anggota jemaat tiap
bulan, sebab itu tidak diajarkan oleh Kitab Suci.
Saudara-saudariku,
kita tidak perlu lagi memberi persepuluhan
berdasarkan hukum Taurat. Meskipun ini banyak ditentang oleh kaum clergy.
Sering kali, kaum clergy menekankan Maleakhi 3:10, akan tetapi penekanan
mereka salah. Maleakhi 3:10 adalah pajak pada masa hukum
Taurat yang diberikan kedua belas suku bangsa Israel untuk mendukung kaum Lewi,
mendanai perayaan keagamaan dan orang miskin, para janda dan orang asing. Allah
memberi peringatan dalam Maleakhi 3:5 akan menghukum orang yang tidak menaati
perintah-Nya. Dia berkata, “Aku akan
mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap
tukang-tukang sihir, orang-orang berzina dan orang-orang yang bersumpah dusta
dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan
yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman
TUHAN semesta alam”. Ini adalah perintah Allah. Bangsa Israel tidak boleh
menahan hak para janda, anak piatu, orang asing dan Lewi. Namun sayang, kaum Full timer/pekerja
menutupi hal ini. Mereka telah menutupi kebenaran Firman Allah. Mereka hanya
meminta hak mereka, tetapi mengacuhkan hak para janda, anak piatu dan orang
asing. Persepuluhan adalah untuk mendukung
terselenggaranya pemerintahan Allah atas bangsa Israel. Tampakkah saudara akan hal ini? Semoga
Tuhan membela kasihani.
C.
BAGAIMANA
DENGAN ANDA
Persepuluhan modern sama dengan sebuah lotre
Kristen. “Bayar persepuluhan dan Allah akan memberimu kembali
banyak uang. Menolak persepuluhan,
maka Ia akan menghukummu”. Inilah perkataan kaum imam. Apakah
saudara lebih bersedia berkenan di hadapan manusia atau Allah. Jika saudara
bersedia mengikuti Allah, maka saudara bersedia menerima konsekuensinya.
Demikian pula jika saudara bersedia mengikuti perkataan manusia, maka saudara
bersedia menerima konsekuensinya. Apa yang saudara putuskan memiliki
konsekuensinya. Bahkan, meskipun
saudara tidak mengambil keputusan, saudara telah mengambil keputusan dan menerima
konsekuensi yang terjadi.
Perkara memberi bagi sebagian golongan selalu diukur berdasarkan jumlah
nilai mata uang yang diberikannya. Sebenarnya jumlah tidak menjadi masalah.
Yang penting bukanlah memberi banyak atau sedikit melainkan sikap hati orang
percaya. Kerapkali orang percaya berkata “seandainya aku memiliki 10 milyar,
maka aku akan melakukan ini dan itu”. Apakah benar demikian? Pertanyaan yang
sebenarnya bukanlah apa yang akan dilakukan dengan uang 10 milyar, melainkan
apa yang akan dilakukan orang percaya dengan uang 1 perak yang dimilikinya?
Bahkan, kerapkali “pekerja” berpikir
seandainya “jemaatku” memberikan
sepersepuluh tiap bulan, maka aku akan berbuat ini dan itu. Permasalahannya apa
yang “pekerja” lakukan dengan uang 1
perak yang “pekerja” miliki. Apakah orang
percaya malu memberi 1 perak? Apakah “pekerja”
malu menerima 1 perak. Apakah orang percaya malu menerima 1 perak? Apakah “pekerja” malu memberi 1 perak? Bukankah
1 perak itu cukup. Di dalam Pengkhotbah 5:9, 10 dikatakan, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan
siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun
sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang
menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya”. Tidak mudah untuk tidak mencintai uang. Mengapa? Sebab kita terus menerus
berurusan dengan uang. Untuk melakukan ini dan itu membutuhkan uang. Cinta uang
membawa kita kepada kegagalan. Orang dapat melupakan Tuhan karena uang (Ams. 30:8-9).
Semoga
kita semua adalah orang yang berdiri bagi kepentingan Tuhan bukan bagi
kepentingan perut kita. Maranatha.
