Table of Contents

Oleh : Saudara G
Shalom saudaraku/saudariku,
Yakobus pasal 2 menceritakan kepada kita saudara-saudari bagaimana kehidupan kita dalam berjalan di JalanNya. Tentu kita adalah orang yang beriman kepada Tuhan, tetapi apakah sebenarnya Iman itu?. Sebelumnya dalam kitab Ibrani kita sudah tau bahwa iman itu ada sebagi dasar bagi setiap saudara-saudari supaya dapat melakukan atau mengerjakan Kristus. Karena kita beriman, maka kita dapat mengerjakan Kristus itu.
Jadi benar yang kita kerjakan itu ada dasar firman nya, dan hati kita pun dapat benar dihadapan Tuhan dalam mengerjakan si iman itu. Maka dari situ kita bisa pahami bahwasanya, bentuk iman itu ketika kita sudah mengerjakannya saudara-saudariku. Ada eksistensi nya, jadi jika belum ada ternyata eksistensi nya berarti itu hanya jadi pengetahuan bagi saudara/saudari tersebut. Maka sama saja lah hakekatnya adalah mati.
Hari ini dalam Yakobus 2 : 18 (“Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”), dari ayat ini kita tahu tidaklah mungkin orang dapat melakukan perbuatan yang benar dihadapan Tuhan jika tidak diawali oleh iman. Maka hari ini pun tidak ada orang yang berbuat dulu lalu beriman, karena perbuatan nya tersebut masih lah keliru dihadapan Tuhan. Iman yang awalnya dari pengetahuan yang benar itu akan menghasilkan perbuatan atau eksistensi , maka dengan kata lain kita menampilkan Kristus.
Maka kita pun perlu kosong atau miskin dalam Roh , miskin dihadapan Tuhan, karena sesungguhnya Tuhan lah Terang itu, maka kita perlu meminta hikmad yang berasal dari Tuhan supaya kita pun dapat melakukan atau mengerjakan sesuai dengan keinginginanNya. Kita perlu terus datang kepadaNya memberi diri kita dipimpin oleh Nya, dan mengerjakan yang Tuhan berikan. Tuhan lah kebenaran itu, konsep manusia adalah usang, yang kita perlu ikuti adalah Tuhan.
Hari ini kita seperti dalam kegelapan, tetapi yang mempunyai cahaya atau terang yang membawa kita kepada jalan yang benar hanyalah Tuhan. Maka hari ini kita pun harus meninggalkan segala konsep usang diri kita, hikmad kita. Baik itu hal-hal yang menghambat diri kita untuk mengenal Kristus lebih dalam lagi.
Tuhan Yesus memberkati.
Amin

Oleh : Saudari Y
Shalom saudaraku dan saudariku,
Puji Tuhan minggu ini kita masuk ke dalam Yakobus pasal yang ke-2, di Yakobus pasal ke 2 kita beroleh penjelasan, bahwa kita bisa menang melewati setiap perkara dengan tepat, jika kita beroleh hikmat Allah, kita harus memiliki satu keadaan, keadaannya adalah toh kita, roh kita harus miskin di hadapan Allah, miskin dihadapan Allah itu berarti memiliki ketergantungan dengan Allah.
Maka miskin itu ia tergantung hanya kepada Tuhan bukan lagi kepada dunia, dan kalau orang yang roh nya tidak miskin artinya tidak membutuhkan Tuhan, karena ia menganggap dirinya sudah cukup/penuh hikmat, orang yang berpikir demikian kalau di taruh di dalam kehidupan kasih persaudaraan itu pasti ada perkelahian. Yang kita perlukan adalah miskin di hadapan Allah, bukan rohnya yang miskin, tetapi roh miskin di hadapan Allah. Roh yang miskin di hadapan Allah itu berarti ketergantungan, yang Tuhan minta hari ini mari kita miskin di hadapan Allah sehingga benarlah kita punya ketergantungan dengan Allah sehingga kita bisa sesuai dengan maksud dan tujuan Allah. Orang yg miskin di hadapan Allah itu pasti adalah orang yang beriman, karena dia merealisasikan imannya, ketika dia merealisasikan imannya, maka perbuatannya terwujud.
Iman tanpa perbuatan itu adalah mati. Iman itu pasti ada wujudnya tapi perbuatan belum tentu perwujudan dari iman. Iman dan perbuatan itu satu paket tidak dapat di pisahkan. Orang yang miskin di hadapan Allah/roh yang miskin di hadapan Allah pasti dia akan memiliki perbuatan yang tepat. Ingatlah, segala sesuatu yang kita kerjakan tanpa iman, maka kita melakukan dosa.
Maka hari ini, mari saudara/saudariku kita menunjukan iman itu. Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan terpujilah Tuhan.
Amin.
