Table of Contents

Oleh : Saudari E
Ayat 1-12 bicara tentang 3 hal dimana ditaruh atau dituntut diselesaikan pada orang yang ingin bijaksana dalam hidup kasih persaudaraan.
1. Tentang dosa
Orang yang bijaksana tentunya tidak mau melakukan dosa, karena ia tahu tentang hikmat, karena ia sesungguhnya bisa mengalahkan dosa dalam hidupnya. Karena Kristus yang ada pada dirinya sudah menjadi Tuhan. Dosa salah satu penyebab terjadinya pertengkaran. Kita berselisih karena ada dosa yang mendorong kita melakukan perkara itu. Adanya kesombongan, iri hati, angkuh dan lain-lain adalah bukti adalah tabiat dosa dalam kita.
Contoh penunjukan akan seseorang yang menjadi koordinator atau penyelenggara, membuat orang lain iri hati, ini akibat tabiat dosa yang mendorong kita sehingga kita melakukan ha- hal dosa tersebut, inilah yang membuat saudara-saudari bertengkar. Orang yang bijaksana itu harus melihat dengan baik, bahwa kita mampu menaklukkan dosa dengan memandang kematian Tuhan, maka ketika kita menerapkan perkara Allah kita akan menjadi orang bijaksana. Dikatakan oleh kitab suci bahwa,
Rom 6:6 “ Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Tubuh dosa kita sudah hilang kuasanya” Memang pada tubuh kita ada benda-benda Iblis namun semua itu tidak punya kuasa lagi di atas diri kita oleh Kematian Tuhan. Maka hari ini tidak ada yang bisa memaksa kita melakukan dosa, selain jika diri kita yang menginginkannya. Di dalam diri pemercaya Tuhan sudah ada hukum Roh yang mengalahkan hukum dosa dan hukum maut yang memampukan kita menaklukkan dosa dan tabiat dosa yang ada pada kita. Kita bukan orang yang tidak mampu meninggalkan dosa atau melawan tabiat dosa. Hari ini para Penganut jika hanya berkutat pada persoalan dosa atau tidak dosa, itu sangat rendah karena kita tidak tinggal lagi dalam perkara itu maka pertengkaran, perselesihan sebenarnya dapat dihindari karena kita mengalahkan dosa. Namun jika kita berdosa kita memiliki darah Yesus asalkan kita mau mengaku dengan sepenuh hati kepada-Nya. Mengapa kita menghindari atau mengalahkan dosa karena efek atau akibat dari tabiat dan dosa inilah yang menimbulkan perselisihan dan pertengkaran diantara kita dan jemaat atau saudara-saudari, sedangkan kita harus hidup dalam kasih persaudaraan dan kerena dosa ini kita tidak dapat menjadi orang yang bijaksana. Maka orang yang bijaksana, ia akan mengalahkan dosa dalam hidupnya.
2. Perkara dunia
Kita harus bisa mengalahkan dunia. Kitab suci berkata dengan jelas
Yoh 16:33 “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
1 Yoh 5:4-5 “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?”
Kristus yang adalah Tuhan telah mengalahkan dunia” dan kita telah menerima Dia yang telah mengalahkan dunia, sebagai kasih karunia bagi kita. Kita yang lahir dari Allah pun telah mengalahkan dunia dengan Iman kita. Dunia bukan dosa tetapi kesukaan kita, yaitu milik kepunyaan manusia lama kita, contoh : main game, tiktok, facebook dan lain-lain. Kita harus ingat bahwa Allah itu pencemburu Maksudnya Allah itu tidak mau hati kita kepada yang lain, kita bisa saja menyukai atau menginginkan sesuatu, karena kita masih berada di dalam dunia ini, tetapi jangan sampai hal itu mngalahkan kesukaan kita kepada Allah. Itu yang Allah tidak mau. Ini sangat luas bangat. Tetapi intinya kita harus ingat bahwa Allah itu pencemburu yang ingin agar hati kita tetap pada- Nya dan terpaut kepada-Nya, contoh : nonton bola tidak salah menjadi salah karena nonton bola membuat kita melupakan kewajiban dan tanggungjawab kita. Kita suka memelihara binatang sampai binatang itu mengikat hati kita maka kita harus hati-hati jangan sampai mengalihkan hati kita. Sampai-sampai kita lupa penginjilan atau perluasan jalan. Sesungguhnya cinta kita kepada Allah yang semakin hari semakin besar oleh pengenalan kita kepada Tuhan Yesus oleh pengajaran Firman yang kita dapatkan dalan Jalan Yang Bapak (Saudara tua Bambang) teruskan kepada kita, akan membuat kita tidak akan menyukai apapun selain dari pada Allah. Sampai berapa lamakah dunia itu menyita waktu kita dan menghisap kita. Bekerja itu baik tetapi jangan karena pekerjaan kita menghabiskan waktu dan lupa Tuhan, seharusnya kita tahu bagaimana menggunakan waktu yang kita miliki karena dapat menjauhkan kita dari Allah. Begitu kita cinta dunia, maka hatinya akan jatuh dan timbul masalah, dan masalah yang terbesar adalah bahwa kita tertipu, dengan mengira bahwa hal itu bukan dosa dan tidak menyadari bahwa musuh Allah sedang menyingkirkan kita dari diri Allah dan dari kerajaan sorga. Ada yang mengatakan kita masih hidup dalam dunia ini? Itu benar maka kita tidak bisa menghindari orang yang cinta dunia dan mungkin ada beberapa hal atau benda yang kita miliki dan kita gunakan sama dengan orang dunia atau beberapa hal yang kita kerjakan sama dengan orang dunia. Namun bagi kita pemercaya Tuhan semuanya itu harus karena Tuhan bermuara dan tujuannya adalah kemuliaan Tuhan. Contoh kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memiliki Hp dan kita diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa bekerja dan kuliah oleh fasilitas yang Allah berikan kepada kita, namun bagaimana semua itu baik benda atau fasilitas itu yang hari ini sudah dijadikan dan dimanfaatkan oleh Iblis di dalam sistem yang dibuatnya untuk menjauhkan kita dari Allah dan dari kerajaan sorga. Maka bagi yang bijaksana dia akan pempergunakan semua itu hanya untuk kemuliaan Tuhan yaitu bagi keperluan dan kepentingan Tuhan, untuk menolong saudara-saudari, tampak baginya bahwa dia hidupnya hanya Tuhan dan fokus utamanya adalah Tuhan. Dengan demikian kita tidak mengikuti sistem dunia ini yang dibuat oleh iblis justru sebaliknya kita mempermalukan musuh Allah, karena kita hidup dalam dunia ini yang sistemnya dibuat oleh Iblis namun kita tidak mengikuti dunia melainkan tetap teguh berjalan dengan Tuhan dan mengikuti Tuhan bukan dunia ini, dengan demikian kita menjadi orang bijaksana yang mampu mempermalukan musuh Allah dan membawa saudara-saudari berjalan dengan Allah.
3. Perkara hati nurani (salah dan benar)
Perkara hatinurani bukan perkara yang mudah untuk dilakukan maka Allah minta kepada kita agar kita ini menjadi orang yang rendah hati, yang tidak hanya melihat benar atau salah, orang bijaksana ia akan rendah hati tidak hanya melihat hitam diatas putih, namun ingin masuk kepada Allah lebih dalam lagi. Maka perkara kita terhadap saudara-saudari jangan hanya perkara salah dan benar. Allah itu benar tapi Allah datang kepada kita sebagai Tuhan, padahal kita berlari menjauh dari Allah karena dosa dan rasa malu yang besar karena hatinurani kita telah menuntut kita. Namun Allah tahu hal itu, maka Allah yang datang kepada kita. Yang benar kitalah yang seharusnya datang namun kita tidak sanggup karena itu Allah yang datang kepada kita. Maka jangan bicara salah dan benar, namun jika kita tahu bagaimana cara berbuat baik maka harus kita lakukan jika tidak kita lakukan maka kitapun sudah jatuh dalam dosa. Kristus adalah rasul tetapi ia membasuh kaki para murid-murid, karena ia ingin memberikan hidup kepada para rasul, ini bukan perkara salah dan benar masaakn Tuhan yang membasuh kaki para murid namun Tuhan melakukannya. Masuklah dalam perkara ini maka kita akan tahu apakah kita ini bijaksana atau tidak. Perkara ini sebenarnya sudah dapat kita lihat pada saat penciptaan manusia yaitu Adam dan Hawa, sebenarnya Allah tidak ingin manusia itu tahu apa yang baik atau benar apalagi yang salah atau jahat. Allah tidak ingin kita tahu mana yang benar atau mana yang baik dari kosep kita, cukup kita tahu perkara hidup. Namun Adam dan hwa telah makam buah pohon pengetahuan itu bukan buah pohon kehidupan. Hari ini Allah ingin mengembalikan semua kehendaknya itu. Allah hanya mau agar manusia itu makan buah pohon kehidupan. Perkara hati nurani atau salah dan benar menjadi dosa karena ketika kita memakai itu untuk menghakimi saudara-saudari kita padahal kita mampu dan bisa lapang hati akan kesalahannya dan kelemahan saudara-saudari. Agar pada waktu yang tepat kita bisa memberikan pengetahuan itu kepadanya dan mendapatkannya kembali. Sehingga ia pun melihat kebenaran oleh kerendahan hati kita itu. Hati nurani sendiri bukan dosa, karena padanya ada firman Allah dan hatinurani adalah bagian dari roh yang tidak bisa berbuat dosa lagi. Dikatakan : 1 Yoh 3:9 “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” Namun jika itu kita pakai perkara ini untuk menghakimi dan menjatuhkan saudara atau saudari maka kita sudah jatuh dalam dosa. Maka hari ini kita hendaknya masuk lebih dalam yaitu Intuisi yang melapaui si hatinurani atau hukum yang tertulis itu sendiri. Melampaui bukan berarti menentang atau melawan apalagi mengabaikan namun kita masuk kepada hasrat Allah yang sesungguhnya yaitu pikiran, perasaan dan kehendak Allah atas satu perkara yang ada. Maka hari ini perlu rendah hati agar hati kitapun yaitu hatinurani kitapun dapat kita lampaui dengan demikian pemimpin atas perjalanan kita bukan lah hatinurani kita lagi melainkan intuisi yang ada pada kita yaitu diri Allah itu sendiri. Tidak lagi hanya hukum-hukumnya melainkan seantero Allah yang ada pada kita. Intuisi yang menjadi isi dari hatinurani kita membuat kita mampu melaupaui perkara benar atau salah. Inilah sumber yang Allah inginkan bahwa bagi kita segalanya harus bersumber dari diri Allah dan diri Allah sendirilah yang menjadi satu-satunya sumber bagi kita.
Banyak contoh yang dapat kita lihat dalam kitab suci antara lain perkara makan atau minum dengan memperhatikan saudara-saudari yang memiliki hatinurani yang lemah dimana kita memutuskan tidak memakan makanan itu demi saudara-saudari kita yang lemah oleh keberatan hatinurani saudara kita itu. Kalau menurut hukum Allah kita dapat memakannya dalam iman, namun karena saudara kita yang lemah hatinuraninya itu kita tidak memakannya, sampai kita memiliki kesempatan untuk mejelasakannya kepada saudara itu, maka kita telah mendapatkan saudara itu dan membawanya berjalan bersama Allah.
Ketiga perkara ini ditaruh agar kita tahu bagaimana kita berjalan dan mengikuti Tuhan. Semua orang percaya dalam hidup saudara dan saudari diberikan 3 perkara ini. Kalau kita perhatikan 3 perkara ini adalah perkara diri manusia yaitu Dosa yang adalah daging atau tubuh manusia, kemudian perkara dunia yang menyangkut jiwa manusia dan yang terakhir perkara hatinurani yang adalah roh manusia itu. Maka jika kita dapat melampaui atau mengalahkan 3 perkara ini itu akan membuat kita menjadi orang yang bijaksana. Allah adalah terang dan kita adalah gelap maka Allah harus melalui diri kita yaitu tubuh, jiwa dan hatinurani kita sehingga ketika Terang itu melalui diri kita yang adalah kegelapan maka tampaklah betapa terang benderangnya terang itu karena sudah melalui kita yang adalah gelap. Maka kita harus menang terhadap 3 perkara ini. Jika kita melampauinya maka kita memasuki satu manusia bhatiniah yang hanya mau memberikan hidup kepada orang lain terutama kepada semua saudara-saudari. Diman manusia bhatiniah ini dalam perjalanannya dia tidak lagi dipimpin oleh hatinuraninya mainkan dipimpin langsung oleh diri Allah dan ia mampu menyatakan apa itu pikiran, perasaan dan kehendak Allah kepada semua orang. Ini adalah orang yang lebih dari pada seorang pemenang yang Paulus katakan kepada kita7 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Rom 8:36-37 “Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Kitalah orang bijaksana yang mampu memepermalukan musuh Allah. Yaitu orang yang memiliki roh sulung yang Allah berikan dan menghasilkan buah sulung dalam hidupnya sehingga ia mampu membawa saudara-saudari berjalan seirama dengan Tuhan, bukan sebaliknya menjadi masalah dalam kehidupan kasih persaudaraan.
Yak 4; 13-17 “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah, Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”
Dikatakan “ Jika Tuhan menghendaki” artinya adalah untuk menyatakan hidup kita yang hanya sebentar sama seperti uap, dulu kita bersama ibu kita tetapi sekarang kita tidak bersama. Maka orang yang bijaksana tahu bahwa ada batas waktu bagi dirinya untuk semua perkara yang Tuhan ijinkan pada kita, Orang yang bijaksana akan melihat ini dengan baik bahwa tidak banyak waktu bagi kita karena itu baiklah kita mempergunakan waktu yang ada ini dengan baik dan benar yaitu mengerjakan apa yang Allah kenan. Kitab Suci berkata bahwa pada kita adalah orang-orang siang bukan orang –orang malam atau kegelapan, selama hari ini adalah siang itu berarti waktu bagi kita untuk bekerja karena jika sudah malam tiba kita sudah tidak punya waktu lagi untuk bekerja, Yoh 9:4 “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.”j
Jika paham hal ini tentu kita akan fokus mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan selama masih ada waktu maka tidak ada dalam pemikiran kita untuk menunda pekerjaan itu. Maka orang bijaksana akan berkata “ Buat apa memfokuskan diri di luar Tuhan, “ namun sebaliknya konsentrasi perkara Allah pada dirinya karena ia tahu hal itulah yang mulia yang penting dan itulah tujuan hidupnya. Dan untuk yang mulia itu ada batas waktu. Maka yang bijaksana tahu apa yang harus dikerjakan.
Dikatakan “jika kita tahu melakukan perkara baik namun kita tidak melakukannya maka ia telah berdosa”. Maka semuanya itu kita kenakan kepada diri kita sendiri. Kita tahu bahwa Allah itu yang utama mengapa kita mengerjakan yang tidak ilahi. Jika kita tahu bahwa hidup itu singkat maka mengapa kita tidak mengerjakan dengan baik saja, bukan membuang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna. Mari kita mencari yang kekal dan yang mulia, karena Allah bukan jahat dengan menahan berkatnya bagi kita. Jika kita bijaksana maka kita tahu kepada siapa kita menaruh harap dan tahu apa yang harus dikerjakan. Sering kali kita menujukan kebijaksanaan pada orang lain dulu, bukan pada diri kita. Melakukan tabiat dosa, melakukan dunia dan melakukan hanya perkara salah dan benar itu semua adalah dosa. Tuntutan Yakobus pasal 4 bukan perkara jasmani tetapi perkara rohani. Kebijaksanaan yang dituntut oleh Yakobus pasal 4 ini lebih dalam lagi tidak sekedar menyelesaikan suatu masalah, waktu yang tepat, cara yang tepat, dan orang yang benar. Bukan sekedar begitu saja namun jauh lebih dalam dimana kekuatan yang besar dari roh mendorong kita oleh intuisi dan hati Allah yang membuat kita harus membawa saudara-saudari menjadi segambar serupa dan berjalan dengan Tuhan. Yaitu bagaimana Kristus adalah sumber bijaksananya kita. Kita stress akan sesuatu hal sebenarnya buat siapakah kita itu stress, buat siapakah sesuatu itu yang yang membuat kita menjadi stress, buat siapa sebenarnya anak-anak kita ini buat siapakah pekerjaan kita, study kita, harta kita dan lain-lain. Jika kita tahu bahwa semua itu semata-mata hanya bagi Tuhan maka kita akan percaya kepada Dia yang memberi kemampuan pada kita untuk melakukannya. Maka Tuntutannya dalam Yakobus ini adalah perkara rohani bukan jasmani. Kita harus sampai pada kebijaksaan yang ada dipasal 4 ini yaitu bijaksana yang berasal dari intuisi yang melampaui hatinurani kita sendiri, melapaui perkara benar atau salah. Jangan kita pusatkan hidup kita untuk perkara-perkara duniawi. Abraham itu tinggal di padang gurun disana bukan tidak ada musik atau hiburan tetapi Abraham menjadikan Allah menjadi fokusnya dan hiburannya. Tidak juga ia jatuh pada hartanya hanya Allah yang menjadi Fokusnya. Yang paling utama adalah Tuhan. Demikianlah kita seharusnya hidup di hadapan Allah bahwa allah adalah fokus utama kita dan segalanya bagi kita.
