Table of Contents

Oleh : Saudari T
Shalom saudara-saudariku, di sepekan ini kita telah belajar di kitab Yakobus Pasal 5. Yakobus pasal 5 mengingatkan setiap saudara-saudari harus tetap berada di Jalan Tuhan yang saat ini telah kita tempuh. Sebagai contoh sikap yang dilakukan untuk tetap ada di dalam Jalan Tuhan ialah dengan tidak mencintai dunia yang menawarkan berbagai kenikmatannya. Yakobus 5 ayat 1-6 menegaskan, bahwa kita harus mengindari sikap matrealistis. Sikap matrealistis hanya akan membawa kita kepada kerugian besar karena hati kita terpaku pada harta dunia yang bersifat sementara. Orang yang bersikap matrealisme menyimpan hartanya di dunia ini dan berorientasi pada materi. Ia hanya memiliki kecenderungan terhadap perkara materi daripada perkara rohani. Dan, sikap materialisme tidak memandang, apakah orang itu berstatus kaya atau miskin. Sebagai contoh, orang Kaya memprioritaskan pekerjaaannya untuk mengumpulkan harta kekayaan dalam memenuhi keinginan Jasmani dan melalui harta kekayaan tanpa memiliki orientasi rohani. Mereka merasa puas diri dengan kepemilikan kekayaannya serta berpikir, bahwa harta miliknya adalah miliknya bukan harta yang dipercayakan Allah kepadanya. Tidak heran, ia adalah penentu kekayaan, apakah akan diberi atau tidak, bukan Allah Sang Pemilik Kekayaan. Sebaliknya, orang miskin menyimpan harta miliknya untuk keberlangsungan hidup jasmaninya karna merasa bahwa yang mereka miliki hanya cukup untuk diri sehingga tidak bersedia memberi berdasarkan seluruh nafkah hidupnya. Kedua hal tersebut menggambarkan, bahwa orang yang materialistis memiliki kecenderungan menaruh perhatian kepada perkara materi daripada perkara rohani. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda bersikap materialistis? Apakah Anda mengira, karena diri Anda miskin, maka Anda tidak bersikap materialistis? Sikap materialisme tidak memandang status kaya atau miskin.
Kita sebagai saudara-saudari yang telah berada di Jalan Tuhan memiliki tujuan dan cara pandang yang berbeda. Tujuan hidup kita adalah perkara Rohani sehingga kita pun memandang dengan menggunakan cara pandang Allah, bahwa harta sejati kita adalah diri Kristus yang kekal. Di dalam materi yang kita miliki di kemah sementara ini, kita bertugas sebagai bendahara Allah, yang siap memberikan harta. Bahkan, hidup kita bagi kepentingan Kristus. Kita memandang, bahwa kita tidak memiliki hak sepeserpun atas harta kekayaan di dunia ini karena semuanya adalah pemberian Allah dan digunakan untuk kepentingan-Nya.
Mari saudara dan saudariku, sebagai penganut Jalan, kita menyingkirkan sikap matrealistik dan menjauhkannya, karena sikap tersebut menyatakan, bahwa kita bersifat daging seperti egois, semuanya untuk kepentingan sendiri. Sebab, Allah mengecam orang yang materialistis, maka kita harus senantiasa berjaga-jaga karena kedatangan Tuhan sudah dekat, sesuai catatan Kitab Yakobus 5:7-11 memberitahukan kita untuk berjaga-jaga di dalam masa penantian kita menunggu kedatangan-Nya. Dan, kita harus tetap ada dalam persekutuan dengan Tuhan dan bersama saudara-saudari. Banyak teladan di masa lalu yang membangun kita untuk tetap teguh dalam menempuh Jalan Tuhan. Oleh karena itu, mari kita mengerjakan pekerjaan Tuhan di dalam kebenaran dan tidak meninggalkan Persekutuan dengan Tuhan.
Selanjutnya, berdasarkan Yakobus 5:19-20 kita menemukan, bahwa setiap saudara-saudari harus saling mengingatkan dan meneguhkan agar tetap ada dalam Jalan Tuhan. Di dalam pengajaran Jalan, Kita telah memiliki kebenaran, hikmat dan kebijaksanaan yang berasal dari Allah. Untuk itu, sebagai pemercaya-Nya, kita harus tetap mengingatkan saudara-saudari dalam Tuhan untuk berada di dalam Jalan Tuhan serta membantu menyelamatkan kehidupan saudara dan saudari dari maut dan menutupi banyak dosa. Ingatlah, kedatangan Tuhan yang semakin dekat membawa kita untuk semakin bergegas menyelesaikan ketetapan Allah dalam hidup kita bagi kepentingan-Nya.
